Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ø¥ِÙ†َّ الصَّÙ„َاةَ Ùƒَانَتْ عَÙ„َÙ‰ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ùƒِتَابًا Ù…َÙˆْÙ‚ُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Rabu, 20 Juli 2011

RS Indonesia di Gaza Butuh Rp30 Miliar

Hidayatullah.com--Organisasi relawan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia meminta dukungan donasi dari masyarakat luas untuk menuntaskan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, yang masih membutuhkan dana Rp30 miliar.
"Kami coba mengetuk hati siapapun masyarakat Indonesia, dan juga mungkin pemerintah, untuk bisa membantu mewujudkan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang akan menjadi simbol persahabatan kedua bangsa, Indonesia dan Palestina," kata Ketua Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad kepada ANTARA di Bogor, kemarin.

Ia menjelaskan bahwa donasi dari berbagai masyarakat sebelumnya ternyata dalam perkembangannya memang belum cukup, khususnya setelah pemerintah Indonesia, yang sebelumnya berkomitmen akan membantu, kemudian mengalihkannya.

"Karena itu, kami mulai lagi menggalang kampanye bagi donasi untuk bisa menuntaskan komitmen membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza itu," katanya.

Menurut dia, dalam sepekan terakhir, pihaknya melakukan "road show" ke berbagai masjid-masjid di DKI-Jakarta. "Syukur alhamdulillah, dari berbagai aksi kampanye sudah terkumpul lebih kurang Rp1 miliar," katanya dan mengharapkan masyarakat bisa berpartisipasi.

Sementara itu, anggota Presidium MER-C Indonesia dr Joserizal Jurnalis, Sp.OT menambahkan bahwa pihaknya sebenarnya telah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

"Adapun perihal surat adalah mengenai program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Kami memandang perlu untuk menyebarluaskan informasi ini kepada para donatur dan relasi yang sudah menyumbangkan dana dan kepedulian mereka untuk program RS Indonesia di Gaza," katanya.

Ia menjelaskan, surat kepada presiden itu dikirimkan pada 15 Maret 2011 itu, terkait dengan surat yang dikirimkan Kepala Pusat Kerja Sama Kementerian Kesehatan RI yang diterima pihaknya pada 14 Maret, Nomor PR.03.02/2/262//2011, sebagai jawaban atas surat MER-C kepada presiden dengan tembusan kepada Menkes mengenai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pemerintah Indonesia dengan Bank Pembangunan Islam (IDB).

Dalam surat itu disebutkan bahwa pada prinispnya MER-C mendukung pemerintah Indonesia yang ingin membantu masyarakat Palestina. "Karena kami yakin semakin banyak bantuan untuk rakyat Palestina akan semakin baik untuk mereka."

"Namun, yang kami sesalkan, di sini adalah sikap pemerintah yang `tidak transparan` dan `tidak menepati komitmen` yang sudah disepakati sebelumnya. Wacana `cardiac center` (pusat penanganan penyakit jantung-red) di Gaza merupakan perbincangan interdep yang digelar sepanjang tahun 2009-2010," sebut surat itu.

Disebutkan pula bahwa wacana mengenai IDB dilontarkan pertama kali oleh Ketua BKSAP DPR-RI Hidayat Nurwahid pada pertemuan 9 Agustus 2010 di Senayan. Kemudian, muncul lagi pada rapat interdep 26 Agustus 2010, namun dalam pembicaraan tersebut IDB dibahas dalam konteks sebagai lembaga yang akan menfasilitasi pengiriman dana pembanguan RS Indonesia yang berasal dari pemerintah Indonesia, dan bukan sebagai pelaksana program.

"Untuk itu, kami menduga keras pembangunan `cardiac center` yang akan bertempat di komplek RS Shifa (Gaza City) adalah proyek IDB (berupa bangunan belum siap) yang sudah ada sejak sebelum agresi Israel akhir tahun 2008 dan pembangunannya terlantar hingga kini," katanya.

Untuk itu, kata Joserizal, MER-C akan tetap melanjutkan pembangunan RS Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara meskipun pemerintah Indonesia "sudah mengalihkan" bantuan dari program itu. "Hal ini kami lakukan semata-mata dalam rangka menyalurkan amanah dana dari rakyat Indonesia," katanya.

Sebagai informasi kepada Presiden Yudhoyono, disebutkan pula bahwa sudah delapan bulan terakhir, tujuh relawan MER-C berada di Gaza untuk mengawal proses pembangunan RS Indonesia, di mana kemajuan sudah mencapai tahap pengumuman pemenang tender pembangunan.

"Selanjutnya, kami berharap, baik program `Indonesia Cardiac Center` maupun `RS Indonesia` dapat berjalan dengan baik, serta memberikan manfaat bagi rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Kami juga berharap dukungan moril dari bapak (presiden) terhadap program `RS Indonesia`. Apabila dibutuhkan, kami juga siap membantu program `Indonedian Cardiac Center`," demikian penutup surat itu.

Surat kepada presiden itu juga ditembuskan ke berbagai pihak, di antaranya pimpinan DPR-RI, Mensesneg, Wantimpres, Menko Kesra, Menlu, Menkes, Komisi I DPR, dan sejumlah donatur dan relasi pembangunan RS Indonesia, di antaranya MUI, PP Lazis NU, Pemprov dan masyarakat NTB, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), masyarakat Kristiani Mataram, NTB, serta berbagi pihak lainnya.

Sebelumnya, pada 18 Februari 2011, Pusat Kerja Sama Luar Negeri Setjen Kemenkes dalam penjelasan kepada MER-C menyebutkan bahwa keputusan menyalurkan bantuan pemerintah Indonesia melalui IDB adalah keputusan bersama ketua DPR, ketua BKSAP, wakil-wakil ketua Komisi I, Menkes, Menko Kesra, Sekretaris Menko Kesra, dan Dirjen IDP (Informasi dan Diplomasi Publik) Kemenlu.*
Sumber : Ant
Red: Syaiful Irwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .