Pages - Menu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kiamat di Irak, 107 Tewas, 287 Luka, Akibat Serangan Bom

Bagdad, Paling sedikit 107 orang tewas dalam serangan bom dan senjata di Irak, Senin.

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

Mengenal Putra dan Putri Rasulullah

Mengenal Putra dan Putri Rasulullah

Pembicaraan tentang putra dan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak heran, sebagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau siapa saja nama anak-anaknya.
Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,
قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ
“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR Ahmad no.24864)
Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiyah.

Kamis, 02 Mei 2013

Imunisasi: Skandal Sadis Konspirasi Medis

Ketua Umum Taruna Muslim
Dalam pembukaan rapat konsultasi nasional imunisasi di Grand Ballroom Hotel Hilton, Selasa, 8 Juni 2010, menteri kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih menargetkan bahwa tahun 2014 pencapaian universal child immunization (UCI) di seluruh desa atau kelurahan di Indonesia mencapai 100% atau 90% dari seluruh bayi yang ada. Menurutnya, Imunisasi adalah hal yang penting sebagai upaya preventif terhadap segala penyakit. Imunisasi lengkap terdiri dari BCG, Hepatitis B, DPT HB dan campak. Ia bahkan menuturkan bahwa tanpa imunisasi, anak-anak mudah terserang berbagai penyakit, cacat dan kematian. Namun benarkah demikian?

Keyakinan Kartini dalam Sorotan


Oleh: Artawijaya*
Ketika penulis melansir beberapa tulisan terkait Raden Ajeng Kartini, beberapa pembaca banyak mengajukan pertanyaan, bahkan sanggahan. Kebanyakan dari tanggapan itu menganggap penulis terlalu tendensius dalam memandang sosok Kartini, terlalu terbuai teori konspirasi, dan mempunyai motif tertentu dalam mengeritik sosok pahlawan nasional tersebut. Atas pertanyaan dan sanggahan tersebut, penulis nyatakan bahwa apa yang penulis lakukan adalah upaya untuk menuliskan sejarah secara jujur, sejarah yang berangkat dari fakta-fakta yang ada, bukan sejarah yang ditulis oleh tinta penguasa. Jika pun ada motif tertentu, maka penulis harus akui bahwa motif itu adalah upaya untuk membongkar selubung “de-islamisasi fakta sejarah” yang selama ini terjadi dalam sejarah nasional kita. De-islamisasi yang dimaksud adalah upaya memarjinalkan peran umat Islam dalam sejarah pergerakan nasional di negeri ini.

Minggu, 03 Februari 2013

Kami Menunggu Kalian Kembali…


Sekarang, kami semua sedang menunggu tibanya hari saat para aktifis muslim, datang bersemangat memperjuangkan Islam dan kaum muslimin. Kami menunggu nunggu hari seperti hari Abu Bakar saat terjadi murtad massal, seperti hari Khalid saat perang Yarmuk, seperti hari Sa’ad saat perang Qadisiyah, seperti hari Shalahuddin saat perang Hithin, seperti hari Muhammad Al Fatih saat penaklukan Konstatinopel, dan saat hari Sulaiman Al Halabi saat menghabisi Jenderal Prancis Jean Baptiste Kleber.

Jumat, 31 Agustus 2012

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak

Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga golongan manusia:
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta’ala membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu), tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperolok mereka:
اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Al-Baqarah: 15)
Di antara bentuk balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketika di hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ. يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” (Al-Hadid: 12-14)
Di dalam ayat-ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang munafikin dengan ancaman yang keras. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ
“Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya maka bagi dia neraka jahanam. Dia kekal di dalamnya dan itu adalah kehinaan yang besar.” (At-Taubah: 63)
Di dalam ayat yang lain:
وَعَدَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا
“Allah mengancam orang-orang munafik yang laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya.” (At-Taubah: 68)
Kelak mereka akan ada di kerak neraka yang terbawah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisa: 145)
Banyak lagi nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keburukan orang-orang munafik dan ancaman bagi mereka. Sehingga seyogianya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari mereka dan juga menjauhi sifat-sifat mereka.

Pengertian nifaq (kemunafikan)

Kemunafikan adalah menyembunyikan kebatilan dan menampakkan kebaikan. Kemunafikan adalah penyakit hati yang berbahaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 10)

Jenis nifaq (kemunafikan)

Ada dua jenis, yakni nifaq akbar (kemunafikan besar) dan nifaq asghar (kemunafikan kecil). Kemunafikan akbar yang disebut juga kemunafikan i’tiqadi (keyakinan) adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman. Kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Kemunafikan asghar yang disebut pula kemunafikan amali (amalan) adalah menampakkan lahiriah yang baik dan menyembunyikan kebalikannya. Pokok kemunafikan asghar kembali kepada lima perkara: Sering berdusta ketika berbicara, sering tidak menepati janji, jika berselisih melampaui batas, jika melakukan perjanjian melanggarnya, dan sering khianat jika diberi amanah.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullahu.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 747)

Perbedaan kemunafikan kecil dan kemunafikan besar

Di antara perbedaan antara keduanya adalah:
1. Kemunafikan akbar pelakunya keluar dari Islam, adapun kemunafikan asghar tidak mengeluarkan dari Islam.
2. Kemunafikan akbar tidak mungkin bersatu dengan keimanan, adapun kemunafikan asghar mungkin ada pada seorang yang beriman.
3. Kemunafikan akbar pelakunya kekal di neraka, sedangkan kemunafikan asghar pelakunya tidak kekal di neraka. (Lihat Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Bahaya kemunafikan asghar

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Orang beriman senantiasa khawatir terjatuh ke dalam kemunafikan
Ibnu Mulaikah rahimahullahu berkata: “Aku mendapati tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya.”
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, apakah dirinya termasuk yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang munafik.
Sebagian ulama menyatakan: “Tidak ada yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.” (dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu)
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengkhawatirkan atas dirinya kemunafikan?” Beliau menjawab, “Siapa yang merasa dirinya aman dari kemunafikan?” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Jauhi sifat-sifat munafik

Kami akan sebutkan beberapa sifat kemunafikan amali yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena kemunafikan amali inilah yang kadang dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Padahal kemunafikan amali sangatlah fatal akibatnya jika terus dilakukan seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullahu: “Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati. Demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ؛ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ
Tanda orang munafik ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika berjanji menyelisihinya.”
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ
Empat perkara, barangsiapa yang ada pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen. Jika ada padanya satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai kemunafikan sampai meninggalkannya: Yaitu seseorang jika bicara berdusta, jika membuat janji tidak menepatinya, jika berselisih melampui batas, dan jika melakukan perjanjian mengkhianatinya.
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa di antara perangai kemunafikan adalah:
1. Berdusta ketika bicara
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Inti kemunafikan yang dibangun di atasnya kemunafikan adalah dusta.
2. Mengingkari janji
3. Mengkhianati amanah
4. Membatalkan perjanjian secara sepihak
Perjanjian yang dimaksud dalam hadits ini ada dua:
1. Perjanjian dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.
2. Perjanjian dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini mencakup banyak perkara.
Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya senantiasa berusaha memenuhi perjanjiannya, terlebih lagi perjanjiannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)
Lain halnya dengan orang-orang kafir dan munafik. Mereka adalah orang-orang yang suka membatalkan secara sepihak serta tidak menepati perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Baqarah: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (Al-Anfal: 56)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ. فَلَمَّا ءَاتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ. فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (At-Taubah: 75-77)
Wajib hukumnya memenuhi perjanjian dengan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ibnu Rajab rahimahullahu menyatakan: “Mengingkari (mengkhianati) perjanjian adalah haram dalam semua perjanjian seorang muslim dengan yang lainnya walaupun dengan seorang kafir mu’ahad. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
Barangsiapa membunuh kafir mu’ahad tidak akan mencium bau surga padahal wanginya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 3166) [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 744]
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu juga menyatakan: “Adapun perjanjian di antara kaum muslimin maka keharusan untuk memenuhinya lebih kuat lagi, dan membatalkannya lebih besar dosanya. Yang paling besar adalah membatalkan perjanjian taat kepada pemimpin muslimin yang (kita) telah berbai’at kepadanya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: …وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِلدُّنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيدُ وَفَى لَهُ…
Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti, tidak akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang pedih –di antaranya: “Seorang yang membai’at pemimpinnya hanya karena dunia, jika pemimpinnya memberi apa yang dia mau dia penuhi perjanjiannya dan jika tidak maka dia pun tidak menepati perjanjiannya.” (HR. Al-Bukhari no. 2672, Muslim no. 108)

Berhati-hatilah dari berbagai bentuk kemunafikan

Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mereka berkata: ‘Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?’ Beliau menjawab: ‘Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka’.”
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Kemunafikan sekarang ini banyak terjadi pada pergerakan politik, sebagaimana telah dipersaksikan oleh sebagian mereka. Sebagian mereka menyatakan: ‘Aku tidak pernah tahu ada politikus yang tidak berdusta.’ Sebagian bahkan menyatakan: ‘Sesungguhnya politik adalah kemunafikan.’ Sehingga kebanyakan politikus terkena kemunafikan amali dalam partai-partai politik.”
Beliau juga menyatakan: “Di antara tanda kemunafikan amali adalah ber-wala’ (berloyalitas) dengan ahlul bid’ah serta membuat manhaj-manhaj berbahaya dalam rangka melawan dan meruntuhkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Syarh Ushulus Sunnah)
Penutup
Saudaraku sekalian…
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita bersikap keras dan menjauhi orang-orang munafik serta menjadikannya sebagai musuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
Wahai Nabi, jihadilah orang-orang kafir dan munafikin serta bersikap keraslah kepada mereka.” (At-Tahrim: 9)
Dalam ayat yang lain:
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ
Mereka (orang-orang munafik) adalah musuh maka hati-hatilah dari mereka…” (Al-Munafiqun: 4)
Maka, sepatutnya seorang muslim menjauhkan diri dari amalan dan sifat-sifat musuh mereka, serta menjauhkan diri dari semua perkara yang akan menjatuhkan dirinya ke dalam kemunafikan, seperti politik praktis dan berbagai jenis kebid’ahan. Nas’alullah al-’afwa wal afiyah.
Sumber: http://www.asysyariah.com Penulis : Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak Judul: Jauhilah Sifal-sifat Munafik

Jumat, 03 Agustus 2012

SELINTAS INDONESIA (Apa dan Bagaimana Indonesia)


Indonesia sebagai Negara Agraris
Indonesia sebagai negara agraris, yang artinya masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai petani. Sektor pertanian menempatkan diri pada urutan teratas dengan angka 64,2 % (Tahun 1971) dan sisanya 35,98 % diluar pertanian. Ini berarti bahwa sebagian masyarakat Indonesia yang tinggal dipedesaan memang mengandalkan lahan pertanian sebagai sangkutan hidupnya.
Indonesia Sebagai Mutli Etnis, Agama, Suku Bangsa Dan Budaya
Beragam etnis, agama, suku bangsa dan budaya ada di Indonesia, baik etnis cina, india maupun eropa; selain itu juga ada masyarakat yang memeluk agama islam, kristen, hindu maupun budha. Indonesia juga terdiri dari beragam suku bangsa, baik suku jawa (umumnya Jawa Tengah dan Jawa Timur), Suku Sunda dan Suku Badui (Jawa Barat), Suku Madura (Pulau Madura di Jawa Timur); Suku Batak, Nias, Palembang, Lampung (Sumatera), Suku Dayak (Kalimantan); Suku Mandar, Suku Makassar, Suku Wajo, Suku Manado (Sulawesi); Suku Lombok, Suku Bima, Suku Timor (NTB dan NTT), Suku Bali (Bali) dan Suku Asmat (Irian Jaya/Papua).[1]
Beragam budaya, adat istiadat/tradisi juga ada di Indonesia, sesuai dengan suku bangsa yang ada di Indonesia. Etnis yang berasal dari negara lain seperti Etnis Cina/Tiongkok memiliki kesenian (tarian) barongsai, Etnis Arab, Etnis India serta Etnis Eropa. Kebanyakan etnis yang bermukim dan lama berada di Indonesai adalah dari Cina dan Arab. Dari India hanya sedikit saja yang menjadi warga negara Indonesia. etnis Cina banyak tinggal di kota-kota seperti Jakarta, Palembang, Pontianak dan Medan, juga di Kota Tangerang. Sedangkan untuk etnis Arab, lebih dominan di Kota Jakarta. Apa sebab mereka lebih banyak bermukim di Jakarta, entahlah.
Indonesia Sebagai  Negara Kepulauan
Indonesia disebut juga sebagai negara kepulauan, karena terdiri dari beribu pulau yang terbentang dari sabang hingga ke merauke. Sabang yang berada di ujung Pulau Sumatera dan posisinya sebagai ujung barat dari Indonesia, selanjutnya Merauke yang berada di ujung Pulau Irian dengan posisi berada di ujung timur Indonesia. Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa dan Pulau Irian. Pulau-pulau kecil seperti Pulau We, Pulau Enggano, Pulau Roti, Pulau Bokor, Pulau Rambut dan lain sebagainya.
Indonesia Sebagai Negara Berpenduduk Muslim Terbesar Di Dunia
Indonesia dikenal juga sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Penduduk Muslimnya berjumlah sekitar *87 % dari 232.073.070 jiwa dari jumlah keseluruhan yang berarti besarannya adalah 201.903.570 jiwa. Perkiraan ini tercatat pada tahun 2002, sehingga kemungkinan bertambah pada tahun 2004 ini menjadi sekitar 202 juta jiwa. Pemeluk agama lainnya, yakni kristen berada pada urutan kedua dengan angka 17 juta jiwa, sedangkan protestan, hindu dan budha sebesar 13 juta jiwa lebih. [2]
Indonesia Sebagai Berpenduduk Terbesar Ke Lima Di Dunia
Indonesia menempati urutan ke lima terbesar penduduk di dunia setelah Cina, India, Amerika Serikat dan Jepang dengan jumlahnya saat ini*(Tahun 2002) kurang lebih 232 juta lebih. Dengan jumlah yang demikian besar seharusnya Indonesia pun sudah berbicara di tingkat dunia. Namun kenyataannya Indonesia saat ini jauh dari harapan dan belum dapat setara dengan empat besar lainnya. [3]
Letak Geografis :
Indonesia berada pada **6° LU-11°LS dan 95° BT-141° BB, juga berada diantara dua benua, yakni Benua Asia dan Benua Australia dan terletak diantara dua samudera, yakni Samudera Pasifik dan Samudera Hindia atau Samudera Indonesia. [4]
Indonesia Diantara Dua Ideologi
Indonesia berada diantara petarungan dua ideologi atau ada diantara dua pengaruh atau kekuatan di dunia, yakni ideologi Sosialis yang komunis yang diwakili oleh Negara Cina, serta ideologi Kapitalis yang Liberalis yang di wakili oleh Australia. Posisi Indonesia memang mengundang perhatian dari dua kutub yang saling berseberangan; apalagi Indonesia sebagai penduduk yang mayoritas muslim dan berpahamkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Posisi Indonesia di percaturan Dunia adalah keterlibatannya pada Organisasi Gerakan Nonblok, sekaligus juga sebagai pendiri gerakan tersebut. Selain itu Indonesia juga termasuk anggota Organisasi Konferensi Islam atau OKI. Di tingkat Regional Indonesia menjadi anggota ASEAN (=Association South East Asia Nation atau Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara). Di kelompok negara-negara Asia Afrika Indonesia dikenal juga sebagai penggagas terbentuknya Konferensi Asia Afrika, yang mendorong negara-negara di lingkungan Asia dan Afrika  yang masih dibawah penjajahan bangsa Eropa, seperti Inggris, Italia, Perancis dan Jerman, berusaha memerdekakan diri dan ternayata berhasil lepas dari cengkeraman penjajah. Sebagai negara yang merdeka, Indonesia telah berhasil memelopori Konferensi Asia Afrika sebagai sarana pertemuan bagi negara negara di kawasan Asia dan Afrika yang masih terjajah untuk merdeka. Dari hasil pertemuan ini menghasilkan sikap bersama yang bernama Dasa Sila Bandung. Gairah yang didapat dari hasil pertemuan tersebut membuat Indonesia menjadi negara yang mengilhami berdirinya Gerakan Non Blok. Gerakan yang tidak mengelompok pada negara-negara yang tergabung pada NATO (=North Atlantic Treaty Organisation, Oragnisasi Pertahanan Negara-Negara Atlantik : merupakan negara-negara yang berada kawasan atlantik atau lebih dikenal dengan negara-negara Blok Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, Belgia dan Jerman Barat) maupun Pakta Warsawa (Organisasi Pertahanan Negara-Negara yang tergabung pada kawasan Eropa Timur atau lebih dikenal dengan Negara-Negara Blok Timur, seperti Uni Soviet, Polandia, Cekoslovakia, Finlandia dan Jerman Timur).
Sebagai negara kepulauan dan negara agraris, juga dilalui garis khatulistiwa, berarti Indonesia memang menjadi tujuan negara-negara asing untuk mengincar dan ingin memiliki atau menguasai, dikarenakan tanahnya yang subur dan hijau royo-royo. Letaknya yang sangat strategis karena dilalui oleh banyak negara dalam pelayarannya untuk mencapai tempat-tempat yang dituju. Sebagai contoh adalah Negara Australia, karena letaknya dibelakang atau bagian paling selatan dari bumi, mereka bila hendak ke Eropa harus melalui perairan Indonesia, sehingga mau tak mau ya melintasi Samudera Indonesia atau wilayah teritorial Indonesia. Sepanjang tahun dan terus menerus mereka

Gambar 1.[5]
Gambar 2. .[6]

[1] Buku Pelajaran IPS Geografi untuk kelas I yang berdasarkan kurkulum Tahun 1984, penerbit “Berlian Mulia” Sukoharjo-Solo.

[2] Buku Pelajaran IPS Geografi untuk kelas I yang berdasarkan kurkulum Tahun 1984, penerbit “Berlian Mulia” Sukoharjo-Solo.

[3] Buku Pelajaran IPS Geografi untuk kelas I yang berdasarkan kurkulum Tahun 1984, penerbit “Berlian Mulia” Sukoharjo-Solo.

[4] Buku Pelajaran IPS Geografi untuk kelas I yang berdasarkan kurkulum Tahun 1984, penerbit “Berlian Mulia” Sukoharjo-Solo.

[5] ** Encarta Encyclopedia Plus 2003
[6] ** Encarta Encyclopedia Plus 2003

Senin, 04 Juni 2012

Syi'ah Ibarat Singa yang Siap Menerkam, Waspadai Makar Syiah!!!

Oleh: AM. Waskito
Akhir April 2012 lalu terjadi gerakan demo “Reformasi” di Kuala Lumpur Malaysia. Targetnya, ingin seperti gerakan People Power di Indonesia, pada Mei 1998 lalu. Tapi ternyata demo di Kuala Lumpur itu gagal mencapai target. Malah media-media Malaysia banyak mengecam demo tersebut.
Dalam sebuah diskusi dengan kawan-kawan di Bandung, saya dengar informasi bahwa penggerak demo “Reformasi” itu adalah orang-orang Syi’ah. Mereka menggerakkan demo, untuk mengambil keuntungan politik tertentu. Mungkin mereka ingin seperti di Indonesia pada Mei 1998. Setelah demo Mei 1998, Indonesia masuk era Reformasi. Sekitar 3 tahun kemudian, di era Abdurrahman Wahid, ormas Syi’ah berdiri di Indonesia, dengan nama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Karena selama ini Malaysia bersikap keras kepada kalangan Syiah, mereka berusaha meruntuhkan rezim yang ada, agar menjadi “rezim Reformasi” seperti di Indonesia; nanti pada gilirannya mereka akan muncul sebagai kekuatan ormas formal (sejenis IJABI itu).
Sekedar catatan, sejak awal berdirinya Republika tahun 1990 (sebelum Reformasi), sudah masuk anasir-anasir Syi’ah di dalamnya. Contoh, Haidar Bagir. Di mata Habibie dan ICMI, yang memang polos secara keislaman, mereka dianggap sama saja seperti Muslim biasa. Makanya Habibie dan kawan-kawan welcome saja. Ternyata, sampai hari ini, di Republika masih bercokol orang-orang yang pro Syi’ah dan Iran. Dan saat November 1999, ketika ada peluang Habibie bisa menjadi Presiden RI lagi, orang-orang Syi’ah ini banyak yang menjegal Habibie. Ya begitulah tabiat dasar mereka...diberi kesempatan, fasilitas, dan posisi; tetapi balasannya ialah malah menjatuhkan pihak yang memberi posisi. Kalau membaca sejarah Islam, watak Syi’ah yang begitu itu tidak aneh sama sekali.
Belum lama ini, saya mendapat informasi, dari sumber berbeda, bahwa akhir-akhir ini ada eksodus aktivis-aktivis Syi’ah asal Indonesia ke Kuala Lumpur. Jumlahnya katanya besar, sampai ribuan orang, Wallahu a’lam. Mereka ingin meneruskan gerakan yang “gagal” sebelumnya, dengan menambahkan sekian banyak pendukung baru. Selain itu, ada analisis lain, bahwa mereka akan menjadikan gerakan “Reformasi” di Kuala Lumpur
sebagai “latihan” untuk menggelar aksi serupa di Indonesia, dalam rangka mencapai perubahan tatanan politik yang lebih pro Syi’ah (atau bahkan dikendalikan oleh Syi’ah itu sendiri). Katanya, masa gerakan ini sekitar satu bulanan di Kuala Lumpur, sebelum akhirnya bulan Juli mereka akan balik lagi ke Indonesia, lewat Batam.
...Kaum Syi’ah itu seperti singa yang memejamkan mata, bukan sedang tidur; sewaktu-waktu ia bisa menerkam kita, kalau sampai lengah...
Secara pasti, kita belum tahu hakikat informasi ini. Tapi tidak ada salahnya kita melakukan 3 hal, yaitu: Pertama, mencari informasi seputar gerakan-gerakan yang disebutkan di atas; Kedua, benar-benar mewaspadai skala gerakan Syi’ah, baik yang menjadikan Kuala Lumpur sebagai sasaran, maupun situasi di Tanah Air sendiri; Ketiga, mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan, bila hal-hal yang dikhawatirkan di atas terjadi di masa ke depan.
Ibaratnya, kaum Syi’ah itu seperti singa yang lagi memejamkan mata. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa ia sedang tidur; sewaktu-waktu ia bisa menerkam kita, kalau sampai lengah. Syi’ah di Iran saat ini sangat tinggi eskalasinya. Mereka mulai merangsek masuk ke Yaman, Saudi, dan Bahrain. Kalau Irak, dengan sangat menyesal kita katakan, Syi’ah sudah memiliki kontrol kuat di sana. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil Muslimin Ahlis Sunnah fil Iraq (wa fii kullimakan). Sedangkan di Suriah, mereka sedang berhadapan vis a vis dengan para Mujahidin Ahlus Sunnah (yang sering disebut oleh orang awam sebagai “Muslim Wahabi”).
Waspadalah wahai Umat!!! Waspadalah wahai Ahlus Sunnah!!! [voa-islam.com]

Ukhuwah Lintas Agama itu Batil

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Ada sebagian orang Islam (atau lebih tepatnya, mengaku Islam) meyakini dan menyeru untuk terbentuknya ukhuwah (persaudaraan) lintas agama. Mereka berdalil bahwa Allah telah menetapkan ukhuwah (persaudaraan) antara orang yang beda aqidah, yaitu ukhuwah sesuku, senegara, dan satu kepentingan. Yaitu dengan firman Allah Ta'ala:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا
"Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud." (QS. Huud: 50); "Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, shaleh." (QS. Huud: 61); "Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib." (QS. Huud: 84); "Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" (QS. Al Syu'araa: 106); "Ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" (QS. Al Syu'araa: 161). Kemudian mereka, orang yang pemahamannya terbalik, menyimpulkan dari ayat-ayat tersebut bahwa kita boleh menyebut orang Yahudi dan Nashrani sebagai saudara kita, karena mereka satu negara dengan kita. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan ini.
Ukhuwah Hanya bagi Sesama Kaum Mukminin
Sesungguhnya meyakini bahwa ukhuwah hanya terjalin oleh sesama kaum mukminin, bukan antar orang beriman dengan orang kafir, termasuk pokok keimanan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al Hujuraat: 10)
Imam al Qurthubi dalam tafsirnya berkata, "Sesungguhnya kaum mukminin bersaudara dalam agama dan kehormatan, bukan karena nasab. Karenanya dikatakan, "Ukhuwah karena dien lebih kuat daripada ukhuwah karena nasab. Karena ukhuwah berdasar nasab terputus karena beda agama. Sedangkan ukhuwah karena dien tidak akan terputus karena beda nasab"."
Imam Ibnu Katsir memaknakan ayat di atas bahwa mereka (kaum mukminin) bersaudara karena dien. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits yang mendukung bahwa persaudaraan hanya berlaku bagi sesama kaum mukminin yang diikat dengan iman dan Islam. Di antara haidts-hadits tersebut:
اَلْمُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ وَلا يُسْلِمُهُ
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)." (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580 dari hadits Abdullah bin Umar bin Ktathab)
Dan dalam Shahih Muslim, "Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama dia hamba itu senantiasa menolong saudaranya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah, no. 2699)
Dan dari Abu Darda', Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِيْن، وَلَكَ بِمِثْلِهِ
"Apabila seorang muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudara yang tidak hadir di hadapannya (tanpa diketahui olehnya), maka ada seorang malaikat yang mengatakan: "Amiin (ya Allah kabulkanlah!), dan bagimu juga (semoga mendapatkan) yang semisalnya." (HR. Muslim no. 2732 dari Abu Darda')
Dan dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
"Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga." (HR. Bukhari no. 2442) dan dalam Shahih Muslim disebutkan, "Seorang mukmin atas mukmin lainnya ibarat satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan jari-jemari tangannya." (HR. Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i dari Abu Musa Al Asy’ari) selesai haidts-hadits yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.
Adapun makna ukhuwah (persaudaraan) yang disebutkan antara para nabi dengan kaumnya dan yang disebutkan tentang mereka dalam beberapa ayat adalah sebagai ungkapan, hikayat, dan pemberitahuan bahwa para nabi diutus oleh Allah berasal dari kalangan kaumnya sendiri dan masih satu nasab dengan mereka. Sementara itu, Al Qur'an tidak pernah menyebutkan bahwa para Nabi berkata kepada kaumnya bahwa mereka adalah saudara kita. Bahkan, sikap para nabi terhadap kaumnya malah sebaliknya. Lihatlah sikap Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika berbicara kepada kaumnya:
إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, . . ." (QS. Al Mumtahanah: 4) Mana persaudaraan dan kepentingan bersama dalam pernyataan Nabi Ibrahim?
Lihatlah perkataan Nabi Nuh 'alaihis salam kepada kaumnya: "Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (QS. Nuh: 26) Mana ukhuwah dan kepentingan bersama?
Lihatlah sikap penentang para nabi dan rasul. Kaum Nabi Luth berkata, "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih." (QS. Al Naml: 56)
Lihatlah sikap kaum Nabi Syu'aib 'alaihis salam, "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." (QS. Al A'raaf: 88)
Lihatlah perilaku Quraisy kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam firman Allah Ta'ala, "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu." (QS. Al Anfaal: 30) di mana kepentingan bersama dan ukhuwah antara para rasul dan kaumnya yang mereka klaim?
Sekarang ini, lihatlah bagaimana penghinaan terhadap Islam dan pemeluknya di penjuru dunia yang tanpa melihat negara dan kemanusiaan? Sesungguhnya slogan ini dibuat untuk menipu kaum muslimin dan sebagai cover kedengkian orang kafir dan munafikin. Tidak diragukan lagi, bahwa slogan-slogan kesukuan dan nasionalisme adalah buatan musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang dikampanyekan oleh orang Islam, baik karena kejahilan mereka, kemunafikan, atau mencari keridlaan terhadap kafirin. Namun yang jelas bahwa mereka tidak akan pernah ridla. Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah: 120) karena mereka tidak akan ridla kecuali kalau umat Islam mengikuti ajaran mereka secara global. Dan celaan ada pada mengikuti hawa nafsu mereka, baik sedikit atau banyak.
Mengikuti hawa nafsu (kemauan) orang kafir berarti berharap keridhaan mereka sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat di atas, didasarkan pada dua alasan:
Pertama, murka Allah terhadapnya, ia keluar dari kecintaan Allah dan Rasul-Nya serta kaum mukminin, dan terjerumus dalam area kaum kafir. Kedua, orang-orang kafir tidak akan ridha terhadap kaum muslimin dan akan tetap menimpakan gangguan, karena keinginan mereka agar kaum muslimin mengikuti agama mereka. Dan ini merupakan syarat mendapatkan keridhaan orang-orang kafir. Siapa melakukan itu, sungguh rugi dunia akhirat, dan itu merupakan kerugian yang sebenarnya.
Supaya Orang Kafir Tidak Berani Mengganggu Kaum Mukminin
Firman Allah di atas sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang kafir memang tidak pernah ridha kepada Islam dan umat muslim. Mereka senantiasa berusaha menimpakan gangguan kepada kaum mukminin dan selalu berusaha memurtadkan mereka dari Islam atau memberhangus mereka dari muka bumi. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan fisik guna menghadapi kaum kafirin yang senantiasa dengki dan memusuhi mereka. Allah Ta'ala berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya." (QS. Al Anfal: 60)
Kandungan ayat ini sangat jelas, Allah memerintahkan kaum mukminin untuk mempersiapkan segala kekuatan yang mampu untuk diwujudkan, baik kekuatan akal, badan, persenjataan, dan semisalnya yang bisa digunakan untuk memerangi orang-orang kafir yang senantiasa berusaha memerangi dan menghancurkan agama Islam dan pemeluknya. Tujuannya, agar niat orang kafir untuk memerangi dan membantai kaum muslimin tidak terwujud karena gentar dan takut melihat kekuatan kaum muslimin. Hal ini karena, jika umat Islam memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berperang akan membuat takut musuh-musuh dari kalangan kafirin dan munafikin untuk melakukan penyerangan. Jika mereka melihat umat Islam lemah, tidak memiliki kekuatan, dan tidak berlatih perang sehingga terlihat tidak mampu menghalau dan melawan musuh, maka mereka akan bersemangat untuk memerangi umat Islam.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala:
وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً
". .  dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus." (QS. Al Nisa': 102)
. . . jika umat Islam memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berperang akan membuat takut musuh-musuh dari kalangan kafirin dan munafikin untuk melakukan penyerangan. . .
Masihkan kita mengganggap bahwa orang-orang kafir sebagai saudara yang senantiasa berkeinginan membantu dan menolong kita? Akankah kita tetap merasa aman dari tipu daya dan makar mereka padahal Allah sudah kabarkan tentnag jatidiri dana tabiat mereka? Sudahkah kita menyiapkan kekuatan untuk melemahkan semangat mereka menimpakan kemudharatan kepada umat Islam? (PurWD/voa-islam.com)

Jumat, 18 Mei 2012

Beginilah Seharusnya Para Aktivis Dakwah Anti Pemurtadan Bergerak!

JAKARTA (VoA-Islam) - Menjelang Natal, sudah menjadi pemandangan biasa, aktivis gereja membagi-bagi parcel, hadiah berbagai macam produk, kepada masyarakat Muslim. Masih ingat Bekasi Berbagi Bahagia (B3), ketika seorang nenek dan gadis berjilbab tanpa disadari telah dibaptis oleh panitia berkedok sosial? Bagaimana sikap kita?
Buatlah program yang sama, yang jauh lebih hebat. Lawanlah pemurtadan, dengan senjata yang sama. Ajak jalan-jalan Pemulung rekreasi ke Puncak atau Dufan, perbanyak rumah singgah. Jika mereka bikin 10, kita bikin 20 rumah singgah. Fungsinya bukan sekadar tempat berteduh, tapi sebagai bengkel karya, sanggar, rumah baca, sarana pelatihan agar hidup mandiri.
Umat Islam jangan kalah strategi. Setiap hari Ahad, pihak gereja biasa menyediakan anggaran dan kendaraan untuk mengajak anak-anak dan remaja piknik. Bukan hanya itu, gereja juga menyediakan makanan yang disukai anak-anak. Sambil piknik mereka nyanyi sama-sama: “Dalam Tuhan kita bersaudara.”
Tak dipungkiri, Bekasi adalah salah satu kawasan yang menjadi target missionaris. Kandati, banyak ustadz dan aktivis dakwah berkumpul di Bekasi sebagai front terdepan. Tapi, ironinya, gerakan pemurtadan tetap kecolongan juga. Ternyata, membendung pemurtadan, tak cukup hanya dengan Tabligh Akbar. Harus lebih peka dengan apa yang butuhkan umat.
Kemiskinan  mendekatkan diri pada kekufuran. Maka, umat harus diberi pendidikan, ekonominya ditingkatkan. “La ikra ha fiddin. Tidak ada paksaan dalam beragama. Serukan manusia ke jalan Tuhanmu dengan cara yang baik,  siapa yang disesatkan siapa yang diberi petunjuk. Dakwah harus menggunakan dengan cara yang cerdas dan thayyib:  dengan lisan, tangan dan hati. Dakwah bukan dengan kekasaran, karena akan membuat orang lain benci. Bukan kepada orangnya, tapi benci pada agama yang diajarkan.
Perlukah laskar turun untuk membendung Kristenisasi? Tetap saja perlu jika dibutuhkan, tapi harus disertai pula dengan pemberdayaan ekonomi. Lebih baik mengunci pintu masuknya. Tentu, tidak semata memperbanyak masjid, tapi perkuat akidah umat, bangkitkan  ekonomi dan status sosialnya, bina agar mandiri. Itu juga perlawanan. Bila akidah sudah kuat, ekonomi umat lebih berdaya, gerakan pemurtadan tidak akan mempan, meskipun terus diprovokasi dan diiming-imingi.
Pada akhirnya, membendung Kristenisasi dan gerakan pemurtadan, bukan hanya tanggungjawab para kristolog dan lembaga anti pemurtadan, tapi kita semua yang peduli dengan nasib umat ini. Kita punya semangat  dan potensi. Tinggal, bagaimana kita bergerak dan menyatukan langkah.
Perlu diketahui, kini banyak umat Kristiani di Eropa meninggalkan agamanya (Kristen). Banyak gereja yang dijual dan berubah fungsi menjadi masjid. Begitu juga di AS, terjadi gelombang besar-besaran, perpindahan dari Nasrani menjadi Muslim. Aneh, Islam justru berkembang pesat di Barat. Tapi, di negeri muslim, justru sebaliknya, kembali murtad dan menjadi liberal. Tentu hal ini membuat kita terheran-heran. Desastian

Senin, 19 Desember 2011

Pola Pikir Said Aqil & Yahudi Menurut Buku ''Membuka Kedok Tokoh Liberal di Tubuh NU'' (2)

Said Aqil yang didukung oleh Gus Dur, memiliki pola pikir non-Islami, cara pikir yang digariskan oleh orang Yahudi dan yang tak bertuhan yang mereka bungkus dengan kata ilmiah. Ilmiah bagi mereka adalah meninggalkan keyakinan agama dengan obyektif pikiran tanpa memikirkan kebenaran, dan kebenaran bagi mereka adalah nisbi tidak ada kebenaran yang mutlak, meskipun dari Allah dan Rasul-Nya. Segalanya boleh dikritik, ditinjau ulang, dibenahi, disesuaikan dengan sosial kultural dan sosial politik. Na'udzubillah.
Kata mereka, pendapat kami benar ada kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah ada kemungkinan benar. Maka bila ada yang tidak cocok, tidak setuju, bahkan sampai memurtadkan, membid'ahkan, mereka akan tenang saja karena ilmiah yang nisbi itu.
Seakan urusan ilmiah adalah urusan dunia tidak ada hubungan pahala dan dosa, apalagi dengan neraka. Lupa atau mengingkari bahwa segala yang dilakukan atau yang dikatakan di dunia akan diminta pertanggung jawaban di hari kiamat nanti. Agama bagi mereka tidak ubah dengan sosial kultural atau sosial politik yang setiap saat bisa diganti dimajukan, dimundurkan, ditinjau ulang dll. (Apakah mereka kira Tuhan dan sifat-sifat-Nya juga perlu disesuaikan dengan sosial-sosial..?). Bahkan Said Aqil dengan gegabah menyimpulkan bahwa misi Islam adalah politik.
Ringkasnya, walaupun dengan al-Qur’an dan Hadits mereka tetap "Sami'na Watafakkarna, Tsuma Tabahhasna Wa Tajaddalna, Faabaina Wa Ashoina".
Inilah cara berpikir Yahudi dan orang-orang yang tak bertuhan yang punya predikat Ilmuan Internasional. Orang-orang yang ahli agama, baik para Shahabat dan lain-lain yang ‘sami'na wa atho'na’ mereka anggap tidak ilmiah, jumud, ekstrim, taqlid buta dan lain-lain, bahkan dengan pandangan yang merendahkan, baik secara terang-terangan atau implisit.
Said Aqil yang konon kabarnya adalah seorang sejarawan ternyata banyak menulis kesalahan yang fatal dalam mengungkapkan sejarah para Shahabat Rasulullah SAW sehingga cenderung bertindak gegabah dan tak selektif, meneliti mana sejarah yang benar dan yang palsu. Akibatnya Said Aqil lebih bangga bila menemukan catatan sejarah yang justru menyudutkan posisi Shahabat. Padahal, at-Thobary sendiri dalam pengakuannya hanya sekedar menulis apa yang ia dapatkan. Soal benar dan tidaknya ia tidak bertanggung jawab. Maka, sangat konyol sekali bila referensi sejarah yang belum disaring tersebut dijadikan pegangan.
ولعل من أسباب اضطراب المؤرخين المعاصرين حول أحداث الفتنة هو أنهم اعتمدوا في استقاء أحداث الفتنة على بعض كتب التاريخ ككتب الطبري دون أن يأخذوا في الاعتبار أن الطبري وغيره من المؤرخين أوردوا في كتبهم هذه إلى جانب الروايات الصحيحة العديد من الروايات الموضوعة والمكذوبة والواهية لأنهم أوردوا كل ما سمعوه وتركوا لمن يأخذ عنهم أن يميز عن طريق السند بين المكذوب والصحيح والثقة والضعيف وقد بين الطبري في مقدمة تاريخ هذا الأمر فقال:
"وليعلم الناظر في كتابنا أن اعتمادي في كل ما أحضرت ذكره فيه مما شرطت أني راسمه فيه إنما هو على ما رويت من الأخبار التي أنا ذاكرها فيه والآثار التي أنا مسندها إلى رواتها دون ما أدرك بـحجج العقول واستنباط  بفكر النفوس إلا اليسير القليل منه. فما يكن في كتابي هذا من خبر ذكرناه عن بعض الماضيين مما يستنكره قارئه أن يستشنعه سامعه من أجل أنه لم يعرف له وجها من الصحة ولا معنى في الحقيقة فليعلم أنه لم يؤت في ذلك من قبلنا وإنما أتى من بعد ناقليه إلينا وأنا إنما أدينا ذلك على نحو ما أدى إلينا". (تاريخ الطبري ج1/ص7-8) . (دراسة عن الفرق ص30-31).
Maka kami sangat menyayangkan Dr. Said Aqiel bila sembarangan menukil referensi sejarah tanpa mengecek siapa sebenarnya pengarang kitab tersebut. Seperti Thoha Husain misalnya yang dinukil pada makalahnya hal. 10 adalah seorang ahli bid’ah yang tidak boleh dijadikan pegangan.
وفرقة دعت إلى الإلحاد وهم فرقة شتى كما تقدم ذكره وأزيد هنا على ما تقدم أنه منذ قامت حكومة مصطفى كمال في تركيا عملت على تشجيع الحركات الإلحاديات فألفت هناك كتب كثيرة تهدف إلى التشكيك في حقائق الأديان كلها والدعوة إلى تركها فقد نبذ الكماليون الشريعة الإسلامية برمتها من حكومتهم ومهدوا طريقا لمحو عقائد الإسلام وآدابه وعباداته من نابتة شعيهم بمنع اللغة العربية من جميع بلادهم وترجمة القرآن بما لا يؤدي حقائق معانيه من لغتهم وكتابته كغيره بالحروف اللاتينية للإجهاز على ألفاظه وأساليبه المعجزة، ومنهم طه حسين وعلي عبد الرزاق وهو من أكابرهم.
Tapi, walaupun bagaimana hebatnya ajaran Taqiyyah Syi’ah tetap yang namanya bangkai akan tercium juga. Buktinya, Khomeini yang katanya mengkomandoi revolusi Iran untuk menggulingkan Syi'ah Iran, sebenarnya yang menjadi tujuan utamanya bukanlah perjuangan merebut kekuasaan, tapi tak lain dan tak bukan adalah menyebarkan ajaran “Syi’ah Imamiyah”–nya. Apalagi bertujuan menggulingkan penguasa yang lalim. Sama sekali bukan itu tujuan Khumaini. Lihatlah nukilan di bawah ini:
لكي نتعرف على نوعية الثورة التي قام بها الخميني حتى نقول فيها رأيا فإنه يجب أن تعرف أولا أن هذه الثورة لم تكن ثورة قامت على أساس مواجهة حكومة صالحة أو طالحة، حكومة صحيحة أو خاطئة ولم تكن ثورة قامت على أساس اختلاف في النظريات السياسية أو حبا في السلطة أو غير ذلك من العوامل والمحركات التي تحدث في عالم الثورات وبخاصة في البلاد الإسلامية، إذ أن الثورة التي قام بها الإمام الخميني قامت على أساس المذهب الشيعي قامت على أساس عقيدة الإمامة والغيبة الكبرى لإمام آخر الزمان المهدي المنتظر.
وقد أوضح الإمام الخميني فكرة الإمامة والغيبة الكبرى في كتابه " ولاية الفقيه " أو "الحكومة الإسلامية". وهذا الكتاب هو رأس الأمر هنا، فهو الأساس الفكري والعقدي للثورة وفهم هذا الكتاب يستلزم أولا التعرف على المذهب الشيعي وخاصة على أسس المذهب وأصوله المتمثلة في عقيدة الإمامة. (الثورة الإيرانية ص33).
المهدي المنتظر الإمام الثاني عشر وآخر الأئمة في ذلك الزمان الذي مضى عليه ألف سنة. ويقول الخميني ؛ ويمكن أن ثمر آلاف السنوات هكذا أيضا، ومن حق الفقهاء ، أي علماء الشيعة بل من واجبهم ومن المفروض عليهم أن يسعوا إلى أن يكونوا خلفاء الإمام آخر الزمان الإمام الغائب ، أن يتملكوا زمام الحكم كممثلين للإمام وكندوبين عنه.وإذا وجد من بينهم من يتملك صلاحية الحكم نهض وتملك زمام حكم الأمة، ومن هنا تصبح طاعته واجبة ليس فقط كإمام بل كنبي وكرسول. (أصول الثورة الإيرانية في ضوء الحكومة الإسلامية ص26).
وكتب الإمام الخميني في كتابه هذا تحت عنوان ولاية الفقيه ما يلي: " وإذا نهض بأمر تشكيل الحكومة فقيه عالم عادل فإنه يلي من أمور المجتمع ما كان يليه النبي صلى الله عليه وسلم ووجب على الناس أن يسمعوا له ويطيعوا ويملك هذا الحكم من أمر الإدارة والرعاية والسياسة للناس ما كان يملكه الرسول صلى الله عليه وسلم وأمير المؤمنين عليه السلام . (الحكومة الإسلامية ص49).
وفي نفس الكتاب (ص75) يكتب الإمام الخميني فيما بعد ما يلي؛ " إن الفقهاء هم أوصياء الرسول صلى الله عليه وسلّم من بعد الأئمة وفي حال غيابهم وقد كلفوا بالقيام بجميع ما كلف الأئمة عليهم السلام بالقيام به".
كانت تلك هي الفكرة التي قامت عليها الثورة التي أتى بها الإمام الخميني ومكانته منها لست مكانة قادة الثورات بالبلدان الأخرى، أو رؤساء الحكومات في البلاد الأخرى بل هو قائم مقام إمام الشيعة الثاني عشر الإمام الغائب وهو وصي رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى ذلك فطاعته واجبة تماما مثل طاعة الإمام والنبي وجميع خطواته وجميع أعماله وجميع قراراته إنما تتمتع بنفس الحيثية السابقة، وذلك طبقا لأساس المذهب الشيعي لعقيدة الإمامة ونظرية الغيبة الكبرى لإمام آخر الزمان، وطبقا لأصول ونظرية ولاية الفقيه المرتبطة بزمان الغيبة الكبرى لإمام آخر الزمان. (الثورة الإيرانية ص 37).
Said Aqiel juga bukan untuk sekedar suksesi belaka. Namun, sebenarnya dia mengemban misi Syi’ah Iran ke Indonesia. Lebih tepatnya semua penduduk Indonesia (khususnya warga Nahdlatul Ulama) akan dimasukkan ke aliran Syi’ah, biar bareng-bareng masuk neraka bersama dia. Betapa kejam dan liciknya manusia bernama Said Aqiel itu. Sengaja dia duduk di atas berpakaian Pengurus Besar NU, tapi ternyata ingin menghancurkan NU dan umumnya umat Islam dengan pikiran-pikiran Syi’ahnya. bersambung
(Disadur dari buku “Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU: Informasi, Penyimpangan dan Jawabannya” karya H. Muhammad Najih Maimoen, penerbit Toko Kitab Al-Anwar, Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang, cet. III, Januari 2011/Shafar 1432, halaman 67-101).

Kamis, 24 November 2011

Menggugat Aqidah Ulama Gamang Penjilat Penguasa


By: Hanif Abdullah

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengaku ulama tapi menyerahkan agamanya kepada penguasa dan membenarkan perilaku penguasa dengan menyitir ayat-ayat Al-Qur’an.

Ke mana larinya pelajaran tauhid yang didapat dari Mesir, Madinah dan di pusat-pusat pengajaran dien ini ditegakkan.

Bila hanya alasan maslahat dakwah lalu menggadaikan akidah, lalu kebenaran hanya menjadi samar-samar dan orang awam tidak mampu mengidentifikasi kebenaran sejati, apa itu yang dia inginkan dari slogan “demi maslahat dakwah.” Bagaimana kebenaran bisa teridentifikasi bila mental dainya adalah mental penjilat dan rakus kekuasaan? Bagaimana nasib umat yang awam bila panutan dalam beragama tidak jauh beda dengan sekumpulan anjing, yang selalu menjulurkan lidahnya, baik diberi atau tidak diberi makanan ? Makin kacau nasib umat ini.

Mengetuk pintu-pintu penguasa dengan menawarkan fatwa dan menjual suara umat yang ditipunya adalah mental ulama kita hari ini. Tidak tahu malu di hadapan manusia mengatakan bahwa hukum yang dibuat sang penguasa adalah hukum yang sudah final, lari ke mana ayat-ayat tauhid dalam benakmu, wahai kiyai? Inikah maslahat dakwah yang kamu doktrinkan kepada kami, padahal negeri ini katamu negeri damai tapi kamu berlindung dalam maslahat dakwah dan membawa suasana perang di dalamnya. Kenapa tidak kau kobarkan sekalian perang itu di sini, ambigu dan gamang mungkin itu menjadi aqidahmu ustadz, tapi kami berlepas diri terhadap itu.

Setelah hal ini umat makin tahu berapa harga agama para ulama durjana antek penguasa itu, sebuah kursi dan sepiring makan siang bersama orang-orang yang memusuhi agama ini, ya itulah yang kami tangkap, karena agama ini dibangun dengan bukti bukan apa yang tersembunyi di dalam hati, karena apa yang dilahirkan itulah cerminan hati, maka bila hati sakit seluruh apa yang dilakukan akan sakit, hatta itu atas nama maslahat dakwah sekalipun.

Lalu datang orang-orang yang ingin memperbaiki umat, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, kembali membumikan tauhid yang sakit dan memperjuangkan tauhid itu dengan jihad, kalian ulama antek penguasa dan Amerika menjuluki orang-orang ini dengan Khawarij, teroris, bughot dan sekumpulan anjing-anjing neraka yang berbicara tanpa ilmu, ironis. Inikah yang kalian inginkan agar manusia terus dalam kesesatan dan standar kebenaran hanya di mulutmu yang tak pernah kenyang dari dunia, bagaimana kalian wahai ulama jahat dalam mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah kelak, sukar dibayangkan.

Kepada umat Islam yang menginginkan Islam sebagai jalan hidup, mari kita tinggalkan mereka yang larut terhadap dunia. Kita hadiri kembali majlis-majlis ilmu, kajian-kajian tauhid, madrasah-madrasah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi kita yang penuh cahaya. Islam hanya tegak dengan kita kembali kepada dua pusaka bukan membelakanginya dan hanya dijadikan pembenaran dalam mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

Kita rengkuh kembali kejayaan umat dengan apa yang pernah ditempuh pendahulu kita, dengan tauhid dan jihad kita sibak debu-debu kehinaan yang menimpa kita, kita ukir senyum janda-janda mujahid dan anak-anak yang mereka tinggalkan dengan tetesan tinta dan darah mereka. Wallahu a'lam bish-shawab [voa-islam.com]

Selasa, 08 November 2011

KETIKA JANJI TINGGAL JANJI


Saat saya berselancar di dunia maya dan mendapatkan seorang teman yang mengajak atau menawarkan saya bisnis (dagang) yang sangat menjanjikan (kata teman saya itu) berupa kuliner yang tengah dia geluti namanya daging burung puyuh. Daging burung puyuh itu ada yang mentah untuk kategori resto/rumah makan atau caterring, sedangkan yang sudah berbumbu kategori untuk warungan, demikian kata si empunya bisnis menawarkan kepada saya, sebut saja Nyonya “X”.
Selanjutnya dalam percakapan lewat YM (Yahoo Messenger) saya bersepakat untuk melakukan pertemuan, rencananya di kantor saya, sebut saja kantor “Y”. O ya, kebetulan Nyonya “X” itu bukan seorang Muslimah, melainkan seorang Nasrani (boleh kan untuk urusan bisnis/dagang). Diawali pembicaraan melalui telpon: (ilustrasinya begini…)
“Apa kabar mbak (maksudnya Nyonya “X”)?
“Baik, pak Dewa (nama samaran saya) juga apa kabar?”
“Bapak pulang jam berapa”, tanyanya kepada saya.
“Jam 5”, jawab saya.
“Saya sekarang berada di Gedung Setiabudi Building, nanti sekitar jam 4 saya akan kesana (ke tempat saya bekerja maksudnya), Bapak tunggu aja disaya ya!” penegasannya kepada saya.
“Baik saya tunggu kalau begitu”, jawab saya.
Percakapan ini juga terekam dalam sms yang Nyonya “X” kirimkan kepada saya, isinya sebagai berikut:
“Pak Dewa (nama samaran saya) bsk aja kalau mau ktm, sy brsan di call jam 10 k arah setiabudi…mungkin jam 1 ke kantor “Y”? (kantor saya bekerja).
“kenapa gak ke setiabudi aja?”, tanya saya kepada Nyonya “X”.
“Oh gud kalau pak dewa bs. Bsk jam 1 di setiabudi buidilng bs?”tanya Nyonya “X” kepada saya.
Baru selesai baca berita/sms ini, muncul kiriman sms berikut:
“Pak dewa sy k tempat bpk jam 4 bs?”, dia mengulang pertanyaan.
“Pak bs k setiabudi building ga jam 3 – 4 sy msh disini sampe jam 5.
Belum selesai dengan sms ini, dia sudah mengirim sms lagi, bunyinya:
“Pak maaf sy ga jd kesitu (maksudnya ke kantor saya), krn ada call orang mau buka tenda puyuh…thx”, Nyonya “X” berkilah
Karena jengkel atau kesal saya menelpon Nyonya “X”
“Mbak (maksudnya Nyonya “X”) kenapa anda tak punya SKALA PRIORITAS sih (tulisan skala prioritas sengaja saya besarkan untuk menunjukkan kejengkelan saya). Maaf saya tak terbiasa banyak janji”, kata saya dengan amarah.
“Pak saya ini orang miskin dan susah, bukan seperti bapak yang sudah sukses, saya begini ini mencari makan karena saya orang kecil dan susah, asal bapak tahu aja”, dia mengomel kepada saya, padahal dia yang salah telah melanggar janji-janjinya. Aneh.
“Eh mbak, saya juga belum pernah sukses dalam berbisnis, tetapi saya nggak suka banyak janji”, belum selesai bicara Nyonya “X” sudah menyela.
“Pak, masa saya harus membatalkan customer (pelanggan) saya yang udah lebih dulu, saya nggak mau bikin dia kecewa, karena dia tadi telpon saya untuk mengirim barang sebanyak 500 ekor, maaf pak”, begitu ngototnya dia dalam pembicaraan telpon kepada saya, meski sudah mengecewakan saya, justru dia yang marah. Aneh.
‘Ya, tapi kan gak begitu, janjinya kan anda mau ketemu dengan saya, ya temui dululah sebelum ke orang itu, baru temui dia”, tak kalah ngototnya saya kepada Nyonya “X”.
“Pak, coba bapak pikir, ngapain saya bisnis yang belum jelas sementara ini sudah jelas, saya gak mau rugi dan kehilangan customer saya. Kalau bapak jadi saya kan tentu juga gak mau”, wooowww angkuhnya dia, sudah salah malah merespon saya dengan penjelasan pembelaan diri yang tak kalah angkuhnya. Manusia macam apa dia itu.
Dengan tak kalah “angkuhnya” saya membalas:
“Mbak, saya gak ngerti kalau mbak mudah membatalkan janji dan mbak nggak minta maaf kalau mbak sudah salah. Janji itu dalam dunia bisnis penting mbak”, saya berusaha tegas kepada Nyonya “X”.
“Ya sudah saya memang buruk dalam hal ini…….”, dia mulai mengendur dengan serangan kata-katanya.
“Loh itu bukan kata saya ya, saya ini orang yang belajar hukum dan saya harus berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata…..”, ujar saya.
“Ya, itu kata saya, bukan kata dari bapak. Saya tahu, saya buruk dalam berbisnis. Maafkan saya kalau begitu, kalau saya memang salah….”, dia mulai mereda….
Pembicaraan lewat telpon cukup menyebalkan buat saya, apa lagi meladeni orang yang belum dikenal tapi ingin ketemuan terus tidak jadi. Uuufff…
Usai bicara lewat telpon, rupanya Nyonya “X” masih belum puas dengan alasan-alasannya, begini bunyi smsnya:
“Pak, saya itu mencari bisnis yg pasti…sekarang agen sy yang perharinya 250 ekor membutuhkan jasa saya yg mau buka resto lebih besarlg, justru ini SKALA PRIORITAS SAYA! Skg sy hrs segera meluncur krn dy butuh stok 500 ekor per hari, kalau ada jadi saya….MANA YG ANDA PILIH?SESUATU YG SUDAH PASTI 250 EKOR PER HARI ATAU YG BELUM JELASS DAN GA PASTI? TOLONG BE EMPATI”, wah wah wah…..GURU BESAR dari mana orang ini menguliahi saya begitu bersemangat. Sudah salah malah menceramahi saya. LUAR BIASA.

(Imam Supriadi, http://suarajihadislam.blogspot.com)

Sabtu, 24 September 2011

Kemarau Panjang Akibat Dosa Manusia, Apa Solusinya?




Oleh: Badrul Tamam

Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa alam semesta. Pencipta dan pengatur alam raya dengan qudrah-Nya yang agung. Menundukkan apa saja yang ada di dalamnya untuk manusia supaya mereka menjadi khalifah-Nya di bumi dengan menegakkan ajaran dien-Nya yang lurus dan suci yang telah disampaikan oleh hamba dan utusan-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Jumat, 16 September 2011

Menengok Ambon Berdarah 1999: Umat Islam Dibantai Orang Kristen & Aparat Lokal


By: Hartono Ahmad Jaiz
Pemimpin Redaksi Nahimunkar.com
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengirimkan utusannya, M Hafidz MSc,  ke Ambon untuk mengirimkan bantuan dan meliput tragedi pembantaian Muslimin yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen. Penyerangan dan pembantaian itu berlangsung sampai 3 bulan, sejak Januari hingga April 1999. Berikut ini kesaksian M Hafidz, Wakil Ketua Komite Penanggulangan Krisis DDII. Sejumlah gambar foto hasil rekamannya �pun dimuat lengkap di buku “Ambon Bersimbah Darah” terbitan Dea Press, Jakarta, 1999. Berikut cuplikannya:

Jumat, 19 Agustus 2011

LAILATUL QADAR: Kapan Adanya dan Bagaimana Cara Mencarinya?


Oleh: Badrul Tamam          
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Mendapatkan Lailatul Qadar menjadi dambaan insan beriman, karena di dalamnya Allah turunkan rahmat dan keberkahan. Amal-amal ibadah dan shaleh yang dikerjakan di dalamnya, nilainya lebih baik daripada amal-amal tersebut dikerjakan selama seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.

Rabu, 03 Agustus 2011

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan

oleh: Wildan Hasan

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah 183).
Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .