Mayoritas orang apabila ditanya, “mengapa membaca al-Qur`an?” Mereka akan menjawab, “karena membacanya adalah amalan utama, karena satu huruf dapat sepuluh kebaikan dan kebaikan dibalas dengan sepuluh yang sepertinya”. Sebagian membatasi pada tujuan dan maksud pahala saja. Adapun selainnya dilupakan.
Orang yang sibuk menghafal al-Qur`an mendapati membaca al-Qur`an untuk mengokohkan hafalannya. Targetnya adalah menetapkan huruf dan bentuk kalimat, sehingga ketika melewati makna kandungan yang agung dan punya pengaruh, dia tidak sadar dan tidak merasakannya; karena semangat dan fikirannya terpusat pada huruf-huruf dan lolos dari kandungannya. Oleh karena itu banyak yang hafal al-Qur`an tidak mengamalkannya dan tidak berakhlak dengannya. Mengkonsentrasikan pikiran antara beberapa niat dan maksud yang berbeda dalam satu waktu adalah usaha yang membutuhkan kesadaran, tekad dan konsentrasi.
Membaca al-Qur`an berkumpul padanya lima maksud dan niat semuanya agung. Satu saja darinya cukup memotivasi muslim untuk segera membaca al-Qur`an. Target membaca al-Qur`an terangkum dalam ungkapan: ثمَّ شعَّ.
(الثاء) : ثواب ، (الميم) : مناجاة ، مسألة ، (الشين) : شفاء ، (العين) : علم ،
(العين) : عمل .
Siapa yang membaca al-Qur`an dengan menghadirkan lima maksud dan niat tersebut bersamaan maka manfaatnya lebih besar.
Ibnu taimiyah berkata:
" من تدبر القرآن طالبا الهدى منه تبين له طريق الحق"
Siapa yang tadabbur al-Qur`an menghendaki petunjuk yang ada padanya maka akan jelas baginya jalan kebenaran ( al-‘Aqidah al-Wasithiyah 103)
Al-Qurthubi berkata:
" فإذا استمع العبد إلى كتاب الله تعالى وسنة نبيه بنية صادقة على ما يحب الله أفهمه
كما يجب ، وجعل في قلبه نورا"اهـ
Apabila seorang hamba mendengar kitabullah dan sunnah nabiNya dengan niat benar sesuai dengan yang Allah cintai maka Allah akan memberikan kefahaman padanya sebgaiama Dia suka dan menjadikan cahaya dikalbunya. (Tafsir al-Qurthubi 11/176).
Tujuan Pertama: Membaca al-Qur`an dengan Niat Ilmu
Tujuan ini agung dan penting dan termasuk maksud terpenting dari penurunan al-Qur`an, seperti dalam firman Allah:
{كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الأَلْبَابِ} [(29) سورة ص ] ،
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS shad ; 29).
FirmanNya:
{أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا} [(82) سورة النساء]
Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an-Nisaa`: 82)
Juga firmanNya:
{أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءهُمُ الأَوَّلِينَ} [(68) سورة المؤمنون] ،
Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Perkataan (Kami), atau Apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? (QS al-mukminun : 68)
Allah juga berfirman:
{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ} [(37) سورة ق ] .
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya. (QS Qaaf :37)
Abdullah bin Mas’ud berkata:
" إذا أردتم العلم فانثروا هذا القرآن فإن فيه علم الأولين والآخرين "اهـ
Apabila kalian ingin ilmu maka selamilah al-Qur`an ini, karena berisi ilmu orang terdahulu dan yang akan datang. (Mushannaf ibnu Abi Syaibah 6/126, al-Mu’jam al-Kabir 9/136)
Al-Hasan bin Ali berkata:
" إن من كان قبلكم رأوا القرآن رسائل من ربهم فكانوا يتدبرونها بالليل ، ويتفقدونها في النهار "اهـ
Sesungguhnya orang sebelum kalian melihat al-Qur`an sebagai risalah dari rabb mereka sehingga mereka mentadabburinya diwaktu malam dan mencarinya diwaktu siang. (at-Tibyaan karya imam Nawawi 28)
Masruq bin al-Ajda, berkata:
" ما نسأل أصحاب محمد عن شئ إلا وعلمه في القرآن ولكن قصر علمنا عنه "
Tidaklah kami bertanya kepada sahabat-sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang sesuatu kecuali ilmunya ada dalam al-Qur`an. Namun ilmu kita yang masih cetek darinya. (Syu’abul Iman 5/231)
Abdullah bin Umar berkata:
" لقد عشنا دهراً طويلاً وإن أحدنا يؤتى الإيمان قبل القرآن فتنزل السورة على محمد فنتعلم حلالها وحرامها وآمرها وزاجرها وما ينبغي أن يوقف عنده منها ، ثم لقد رأيت رجالا يؤتى أحدهم القرآن قبل الإيمان ، فيقرأ ما بين فاتحة الكتاب إلى خاتمته لا يدري ما آمره ولا زاجره وما ينبغي أن يقف عنده منه ينثره نثر الدقل "اهـ
Aku telah hidup dalam waktu yang lama dan sungguh salah seorang kami diberikan iman sebelum membaca al-Qur`an, sehingga surat turun kepada Muhammad lalu kami belajar halal, haram, perintah dan larangannya serta yang sepatutnya untuk berhenti darinya. Kemudian aku melihat orang-orang yang diberikan al-Qur`an (membacanya) sebelum imam, lalu membaca antara al-Faatihah hingga akhir al-Qur`an tidak mengerti apa perintah dan larangan dan yang seharusnya ia berhenti darinya, membacanya begitu saja. (Riwayat al-Haakim dalam al-Mustadrak 1/91 dan al-baihaqi dalam sunan al-Kubra 3/120).
Sedangkan al-Hasan al-bashri berkata:
" ما أنزل الله آية إلا وهو يحب أن يعلم فيم أنزلت وما أراد بها "
Allah tidak menurunkan satu ayat kecuali senang diketahui isi yang diturunkan dan maksudnya. (tafsir al-Qurthubi 1/26).
Demikian juga Abdullah bin Umar berkata:
" عليكم بالقرآن فتعلَّموه وعلِّموه أبناءكم فإنكم عنه تسألون ، وبه تجزون ، وكفى به واعظاً لمن عقل "اهـ
Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan al-Qur`an sehingga mempelajarinya dan mengajari anak-anak kalian, karena kalian akan dipertanggung jawabkan tentangnya dan dibalas dengan sebabnya dan cukuplah itu sebagai nasehat bagi orang yang berakal. (Musykil al-Atsar , 1/171)
Al-Hasan al-Bashri berkata:
" قراء القرآن ثلاثة أصناف : صنف اتخذوه بضاعة يأكلون به ، وصنف أقاموا حروفه ، وضيعوا حدوده ، واستطالوا به على أهل بلادهم ، واستدروا به الولاة ، كثر هذا الضرب من حملة القرآن لا كثرهم الله ، وصنف عمدوا إلى دواء القرآن فوضعوه على داء قلوبهم ، فركدوا به في محاريبهم ، وحنوا به في برانسهم ، واستشعروا الخوف ، فارتدوا الحزن ، فأولئك الذين يسقي الله بهم الغيث وينصر بهم على الأعداء ، والله لهؤلاء الضرب في حملة القرآن أعز من الكبريت الأحمر " اهـ
Membaca al-Qur`an ada tiga macam: pertama, orang-orang yang menjadikannya barang dagang yang menjadi makanannya. Kedua orang-orang yang meluruskan huruf-hurufnya dan melalauikan batasan-batasannya. Mereka mencari kesombongan atas penduduk negerinya dan menjilat kepada para penguasa. Telah banyak orang macam ini dari penghafal al-Qur`an semoga Allah tidak memperbanyak mereka. Ketiga, orang-orang yang bersandar kepada obat al-Qur`an lalu meletakkannya atas penyakit kalbu mereka berdiam dimihrab-mihrab mereka dan diam dalam pakaian burnus mereka serta merasa takut sehingga dirundung duka. Maka mereka inilah orang-orang yang Allah sirami dengan hujan petunjuk dan memenangkanmereka dari musuh-musuh. Demi Allah mereka ini dalam penghafal al-Qur`an lebih mulia dari emas murni. (Ibnu al-jauzi dalam al-Ilal 1/110 )
Ilmu yang Kita Inginkan?
Apakah ilmu yang kita ingin dari al-Qur`an? Ibnul Qayyim menjawab pertanyaan ini dalam bait-bait syairnya:
والعلم أقسام ثلاث ما لهـــــا من رابع والحق ذو تبيــــان
Ilmu ada tiga bagian tidak ada lagi,keempatnya dan kebenaran sudah ada penjelas.
علم بأوصاف الإله وفعلـــــه وكذلك الأسماء للرحمـــــن
Ilmu tentang sifat dan perbuatan Allah, demikian nama buat Maha Penyayang.
والأمر والنهي الذي هو دينــــه وجزاؤه يوم المعاد الثــــاني
Perintah dan larangan yang menjadi agama, balasan dihari kembali yang kedua kali
والكل في القـرآن والسنن الــتي جاءت عن المبعوث بالقـــرآن
Semuanya ada di al-Qur`an dan Sunnah yang diajarkan utusan yang membawa al-Qur`an.
Kita menginginkan ilmu yang dapat menyampaikan kita pada kesusksesan hidup. Ilmu yang dapat mewujudkan kebahagian dan kehidupan yang baik serta jiwa yang tenang dan rizki yang halal dan cukup. Ilmu yang dapat merealisasikan keamanan dunia dan akherat. Kita mnginginkan ilmu yang melahirkan keinginan dan tekad baik dan menghapus semua fenomena kehgagalan dalam semua sisi kehidupan. Itulah ilmu tentang Allah dan ilmu tentang hari akhir. Ilmu tentang Allah diawali dengan ilmu yang mengantar kepada taubat seperti dijelaskan dalam firman Allah:
{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ} [(19) سورة محمد] ،
Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu (QS Muhammad: 19).
Ilmu yang mewarisi istighfar dan mengantarnya adalah ilmu yang membawa kepada kesusksesan dan itu adalah ilmu “La Ilaaha Illa Allah”. Itulah Ilmu yang menghasilkan rasa takut kepada Allah. Seperti dikatakan seorang penyair:
ورأس العلم تقوى الله حقا وليس بأن يقال لقد رئستا
Puncak ilmu adalah takwa kepada Allah secara benar dan bukan agar dikatakan kau telah memimpin.
Juga dikatakan ibnu Mas’ud:
" كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا "
Cukuplah dengan rasa takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah terpedaya dengan Allah sebagai kebodohan. (lihat Miftah daaris-Sa’adah 1/51).
Bagaimana merealisasikan tujuan ini?
Diantara kiat merealisasikan tujuan ini adalah membaca al-Qur`an seperti bacaan pelajar atau mahasiswa dimalam ujian. Sungguh kita didunia ini dalam al-Qur`an. Diantara kita ada yang sungguh-sungguh semangat yang murojaah al-Qur`an dengan terus menerus. Diantara kita ada yang tidak perduli yang bermain-main, bila ditanya tentang sesuatu dalam al-Qur`an jawabnya “hah hah nggak tau”.
Bacalah al-Qur`an seperti membaca peraturan pekerjaan kita yang ditempel dikantor dan menjadi rujukan dalam setiap kerjaan kita setiap harinya. Al-Qur`an wajib dirujuk dalam setiap sikap dan tindak tanduk kita. Dengan ini siapa yang ingin sukses didunia ini harus hafal dan mengerti maksud dan kandungannya untuk memudahkannya mengetahui jawaban setiap permasalahannya dengan cepas dan pas. Ada beberapa contoh yang dapat dilihat dalam al-Qur’an diantaranya:
Nabi ketika di Goa Tsaur menjawab kekhawatiran Abu Bakar dengan jawaban:
{ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا } [ ( 40) سورة التوبة ] ،
"Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita."
Juga jawaban nabi Musa kepada kaumnya ketika terjepit ditepi lautan dari kejaran Fir’aun:
{ كَلاَّ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ} [(62) سورة الشعراء]
Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku"
Demikian juga jawaban Yusuf ketika diajak berbuat mesum :
{ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ} [(23) سورة يوسف] ،
Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
Jawaban singkat dan cepat serta kuat pada keadaan genting yang mengenai seorang manusia. Pada keadaan yang membuat akal lelaki jantan hilang. Namun mereka dengan keyakinan yang demikian kuatnya mampu bersabar dan kokoh.
Al-Qur`an Menghidupkan Kalbu sebagaimana Air Menghidupkan Tanah
Tentang hal ini Allah berfirman:
{اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ} [(17) سورة الحديد]
Ketahuilah olehmu bahwa Sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.
Sebelumnya Allah berfirman:
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ} [(16) سورة الحديد]
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dalam ayat-ayat ini ada isyarat bahwa kehidupan kalbu itu ada dengan dzikir kepada Allah dan kebenaran yang telah Allah turunkan yaitu al-Qur`an seperti menyuburkan tanah dengan air. Malik bin Dinaar berkata:
" ما زرع القرآن في قلوبكم يا أهل القرآن ؟ إن القرآن ربيع المؤمن كما أن الغيث ربيع الأرض " اهـ
Apakah al-Qur`an telah telah tertanam dalam kalbu kalian wahai ahlu al-Qur`an? Al-Qur`an adalah rabii’ seorang
Mukmin sebagaimana hujan adalah rabii’ bumi. (Ihya’ Ulumuddin 1/285). Ini sudah terbukti secara umum.
Tujuan kedua : Membaca al-Qur`an dengan Tujuan Mengamalkannya
Urgensi mengamalkan ilmu disampaikan oleh banyak ulama diantaranya kholifah Ali bin Abi Thalib :
" يا حملة القرآن أو ياحملة العلم ؛ اعملوا به فإنما العالم من عمل بما علم ، ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم يخالف عملهم علمهم وتخالف سريرتهم علانيتهم يجلسون حلقاً يباهي بعضهم بعضا حتى إن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى "اهـ
Wahai penghafal al-Qur`an atau para ulama! Beramallah dengannya, karena orang alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan ilmunya sesuai dengan amalannya. Akan ada satu kaum yang mengemban ilmu tidak melewati kerongkongan mereka. Amalan mereka menyelisihi ilmunya dan batinnya menyelisihi lahiriyahnya. Mereka duduk dimajlis halaqah sebagian mereka berbangga-bangga atas sebagian lainnya hingga seorang marah kepada orang yang biasa duduk dimajlisnya yang duduk menghadap kepada selainnya dan meninggalkannya. Itulah mereka yang amalannya tidak terangkat dalam majlis mereka tersebut kepada Allah. (at_tibyaan fi Adab Hamalatil Qur`an 1/20).
Hasan al-bashri pernah berkata:
" أمر الناس أن يعملوا بالقرآن فاتخذوا تلاوته عملا"
Allah memerintahkan manusia untuk mengamalakan al-Qur`an lalu mereka menjadikan bacanya sebagai amalan. (lihat Madarijussalikin 1/451).
Demikian juga al-Hasan bin Ali berkata:
"إقرأ القرآن ما نهاك فإذا لم ينهك فليست بقراءة"
Bacalah al-Qur`an sesuatau yang mencegahmu, apabila itu tidak mencegahmu maka itu bukan membaca. (lihat kanzul ‘Umal 1/2776)
Juga al-hasan al-bashri berkata:
"إن أولى الناس بهذا القرآن من اتبعه وإن لم يكن قرأه
Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap al-Qur`an adalah orang yang mengamalkannya walaupun tidak mampu membacanya. (Qaidah fi Fadhail al-Qur`an karya Ibnu Taimiyah hlm 59)
Penerapan Tujuan Ini
Membaca al-Qur`an dengan niat mengamalkannya maksudnya adalah berniat mendapatkan ilmu untuk diamalkan, sehingga berhenti setiap ayat untuk dilihat dan dipelajari apa yang diinginkan ayat tersebut, apakah perintah atau larangan atau keutamaan yang dianjurkan untuk diambil atau bahaya yang harus dihindari. Demikianlah karena al-Qur`an adalah petunjuk praktis untuk menggerakkan jiwa dan menjaganya. Seharusnya hal ini dekat dari seorang muslim yang membina dirinya untuk membaca al-Qur`an dengan niat dan tujuan mencari solusi atas masalah atau perbaikan kekurangan yang ada. Dia mencari tafsir fenomena atau terapi penyakit atau analisa satu keadaan tertentu.
Adapun usaha mencari penyelesaian permasalahan pendidikan di buku atau majalah atau saluran internet dan sebagainya merupakan sarana kita melalaikan tujuan penting al-Qur`an ini.
Ingatlah semua pendidikan yang tidak dibangun langsung diatas al-Qur`an adalah pendidikan yang tidak sempurna walaupun menghasilkan sebagian hasil sebagai ujian dari Allah.
Tujuan ketiga: Membaca Al-Qur`an dengan Tujuan Munajat Kepada Allah
Tentang hal ini Rasulullah pernah bersabda :
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ
Tidaklah Allah mendengar sesuatu seperti mendengarkan suara indah Nabi membaca al-Qur`an dengan keras. (Mutafaqun ‘alaihi).
Demikian juga Abdullah bin al-Mubaarok pernah bertanya kepada Sufyaan ats-TSauri :
الرجل إذا قام إلى الصلاة أي شئ ينوي بقراءته وصلاته ؟ قال : ينوي أنه يناجي ربه "
Seorang apabila berdiri dalam sholat dengan niat apa dia berniat membaca al-Qur`an dan sholatnya? Beliau menjawab: Berniat munajat kepada Rabbnya. ( lihat Ta’zhim Qadri ash-Shalaat hlm 92).
Al-Bayadhi berkata:
أن رسول الله خرج على الناس وهم يصلون ، وقد علت أصواتهم بالقراءة فقال : إن المصلي يناجي ربه عزوجل فلينظر ما يناجيه ، ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن"
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui orang-orang yang sedang sholat. Suara-suara mereka meninggi dalam membaca al-Qur`an. Maka beliau bersabda: Sesunguhnya orang yang sholat sedang munajat kepada Rabbnya ‘Azza wa jalla maka hendaknya melihat apa yang disampaikan dalam munajatnya dan jangan sebagian kalian meninggikan suara bacaan al-Qur`an dari sebagian lainnya. (HR Ahmad dan dishahihkan Ahmad syakir dan al-Albani lihat Shahih al-Jaami’ no. 3714).
Seorang muslim ketika membaca al-Qur`an hendaknya menghadirkan tujuan agung ini agar merasakan kelezatan membaca al-Qur`an. Dia bisa menikmati kelezatan ketika ingat Allah melihat dan mendengar bacaannya. Seorang yang membaca al-Qur`an merasa bahwa Allah menyampaikan kalamNya secara langsung dan Allah mendengar bacaannya. Apabila ada ayat berisi tasbih dia bertasbih dan bila melewati ayat berisi ancaman maka dia memohon perlindungan kepada Allah darinya. Inilah yang dimaksud dengan munajat tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu , beliau berkata:
" صليت مع النبي ذات ليلة فافتتح البقرة ، فقلت يركع عند المائة ثم مضى ، فقلت يصلي بها في ركعة فمضى ، فقلت يركع بها ، ثم افتتح النساء فقرأها ، ثم افتتح آل عمران فقرأها ، يقرأ مترسلا ، إذا مر بآية فيها تسبيح سبح ، وإذا مر بسؤال سأل ، وإذا مر بتعوذ تعوذ"
Aku telah sholat bersama Nabi shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di satu malam, lalu beliau membuka dengan baca surat al-Baqarah. Lalu aku berkata (dihati): Beliau akan ruku’ pada ayat keseratus kemudia ternyata masih terus. Lalu aku berkata: Beliau akan sholat dengan membaca surat al-Baqarah seluruhnya, lalu beliau tetap sholat. Aku berkata: beliau ruku’ setelah selesai al-Baqarah. Ternyata beliau terus memulai baca surat an-Nisaa’ lalu terus membacanya kemudian memulai dengan alimron dan terus melanjutkannya. Beliau membaca dengan perlahan, apabila melewati ayat berisi tasbih beliau bertasbih. Apabila melewati doa beliau berdoa dan bila melewati hal-hal yang harus berlinudng beliau berlindung kepada Allah. (HR Muslim no. 772).
Demikianlah munajat dengan al-Qur`an. Bacaan al-Qur`an yang hidup dan difahami oleh pembacanya apa yang dibaca dan mengapa membaca? Siapa yang diajak bicara dengan bacaan itu dan apa yag dibutuhkan darinya? Apa yang harus dilakukan berupa pengagungan dan pensucian Allah. Ingatlah selalu apabila melewati bacaan ayat-ayat tentang sifat-sifat kesuksesan dan kebahagian untuk memohon hal itu kepada Allah. Bila melewati ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat kesengsaraan dan kebinasaan maka berlindung kepada Allah dari semua itu.Pembinaan jiwa dengan tujuan ini menguatkan sikap diawasi (muraqabah) dalam keadaan semangat sehingga menjadi penghalang ketika keadaan futur dan turun iman.
Ibnu al-Qayyim berkata:
" إذا أردت الانتفاع بالقرآن فاجمع قلبك عند تلاوته وسماعـــــه ، وألق سمعك ، واحضر حضور من يخاطبه به من تكلم به سبحانه منه إليه ، فإنه خطاب منه لك على لسان رسوله "اهـ
Apa bila kamu ingin mengambil manfaat dari al-Qur`an, maka konsentrasikan kalbu ketika membacanya dan mendengarnya. Pasanglah pendengaran dan hadirkanlah dalam kalbu kehadiran Allah yang mengajak berbicara dengannya, Karena isi al-Qur`an adalah kalam dari Allah untuk mu melalui lisan RasulNya. (al-Fawaaid)
Ingatlah ketika kamu munajat dengan al-Qur`an lima perkara:
1. Allah mencintaimu ketika membaca al-Quran
2. Allah melihatmu
3. Allah mendengarnya
4. Allah memujimu
5. Allah member.
Wabillahittaufiq.
Tujuan Keempat : Membaca al-Qur`an dengan Tujuan Mendapatkan Pahala
Banyak nash syariat yang menjelaskan pahala membaca al-Qur`an, diantaranya:
1. Hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف"
Siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan sepuluh sepertinya. Tidak aku katakana: Alif lam Mim satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR at-tirmidzi )
2. Hadits Jaabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu , beliau berkata:
" كان النبي يجمع بين الرجلين من قتلى أحد في ثوب واحد ثم يقول : أيهم أكثر أخذا للقرآن ؟ فإذا أشير له إلى أحدهما قدَّمه في اللحد "
Nabi dahulu mengumpulkan dua orang lelali dari yang meninggal di Uhud dalam satu pakaian, kemudian bersabda: siapakah mereka yang paling banyak hafal al-Qur`annya? Apabila diisyaratkan ke salah satunya maka beliau mendahulukannya di lahad. (HR al-Bukhari 1/450, Abu dawud no. 3138).
3. Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة ، والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران"
Orang yang mahir membaca al-Qur`an bersama malaikat safarah kiram baroroh dan yang membaca al-Qur`an dan terbata-bata dalam keadaan susah maka baginya ada dua pahala. ( Muttafaqun ‘Alaihi)
4. Hadits Utsman bin Affaan Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda:
"خيركم من تعلم القرآن وعلمه"
Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar al-Qur`an (HR al-Bukhori no. 4739).
5. Hadits Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه"
Bacalah al-Qur`an karena dia datang dihari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya. (HR Muslim no. 804).
6. Hadits Umar bin al-Khathab Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
أما إن نبيكم قد قال : "إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين"
Adapun Nabi kalian telah bersabda: Sesungguhnya Allah mengangkat dengan al-Qur`an beberapa kaum dan merendahkan yang lainnya. (HR Muslim no. 817)
Masih banyak lagi nash-nash syariat tentang keutamaan membaca al-Qur`an. Ini hanya sebagian kecil saja untuk mengingatkan betapa besar pahala orang yang membaca al-Qur`an.
Tujuan Kelima: Membaca al-Qur`an Dengan Tujuan Pengobatan
Al-Qur`an adalah obat bagi kalbu dari penyakit syubhat dan syahwat serta waswas dan obat bagi badan dari penyakit. Allah berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ } [(57) سورة يونس]
Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus :57).
Allah juga berfirman:
{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا} [(82) سورة الإسراء]
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS al-Isra` : 82).
Demikian juga berfirman:
{ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ} [(44) سورة فصلت].
Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh"(QS Fushilat: 44).
Apabila seorang menghadirkan niat dan tujuannya seperti ini, maka ia mendapatkan dua obat: Obat ilmu makmawi dan obat materi badan dengan izin Allah. Oleh karena itu Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:
أن رسول الله دخل عليها وامرأة تعالجها ، أو ترقيها ، فقال : عالجيها بكتاب الله "
Sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menemui beliau dan seorang wanita yang sedang Aisyah obati atau ruqyah. Maka beliau bersabda: Obatilah dia dengan al-Qur`an. (HR Ibnu Hibban no. 6098 (13/464) dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah no. 1931)
Pengobatan dengan al-Qur`an terjadi dengan dua hal, Pertama: mengamalkannya, khususnya di akhir malam dengan berniat pengobatan dan Kedua dengan ruqyah.
Yang perlu diperhatikan bahwa menggunakan al-Qur`an secara langsung adalah mudah bagi setiap orang yang jujur dan benar-benar menggunakannya. Kebanyakan kaum muslimin menjadikan antara dia dengan al-Qur`an perantara ustadz atau peruqyah dan tidak memperhatikan penggunaannya secara langsung. Ini merupakan kesalahan, bayangkan mereka berputar-putar cari orang yang meruqyahnya padahal dia sendiri mampu melakukannya.
Semoga bermanfaat dan akan bersambung insya Allah dengan kunci ketiga…….









Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun