
Pukul 15.00 saya bertemu professor saya. Maksud utama sebenarnya ingin mananyakan draft disertasi yang sudah saya berikan dua minggu lalu. Tapi rupanya professor saya sedang kurang berkenan untuk diajak bicara soal draft saya itu. “kamu masih punya cukup waktu, nikmatilah liburan musim panas ini”, begitu dia bilang saat saya tanya bagian mana yang kurang atau perlu saya perbaiki. Akhirnya kami bicara hal-hal lain di luar topik penelitian saya.
Pada tataran teoritik masalah kemiskinan dan kelaparan menjadi perdebatan yang tak pernah selesai dikalangan ahli, baik mengenai penyebab maupun bagaimana penyelesaiannya. Namun kalau kita bicara pada level yang sederhana, sebenarnya kemiskinan dan kelaparan seringkali terjadi karena banyaknya manusia-manusia yang tak punya hati dan empati. Bagi mereka kemiskinan hanya menjadi komoditas politik atau sekedar menjadi bahan diskusi dan seminar tanpa I’tikad yang serius dan tulus untuk menyelesaikannya.
Orang-orang tak berhati dapat kita lihat dengan kasat mata misalnya ketika terjadi bencana, rakyat susah tinggal ditenda-tenda, kekurangan bahan pangan, tapi pada saat yang sama ada pejabat yang tega mengkorupsi dana bencana. Koruptor-koruptor sejatinya adalah manusia tak berhati yang tidak memiliki empati sama sekali. Bagaimana tidak, ketika 40 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, mereka merampas uang negara yang sejatinya bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan.
Dalam ilmu pengetahuan, kita mengenal apa yang kita sebut dengan tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya bisa kita pahami secara baik kalau kita melakukannya sendiri. Contohnya mengenai lapar. Definisi kata lapar mungkin bisa dijelaskan oleh ahli-ahli gizi atau kesehatan. Namun hakekat lapar sendiri sesungguhnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Memahami kata lapar hanya bisa dilakukan secara sempurna jika kita secara langsung merasakan lapar.
Puasa melatih kita untuk mencapai pemahaman yang sempurna mengenai hakekat lapar. Dengan pemahaman yang sempurna ini diharapkan bisa melahirkan empati kepada orang-orang yang lapar berkepanjangan melebihi batas waktu puasa seperti yang terjadi di Somalia atau bahkan mungkin terjadi juga di Indonesia. Puasa karenanya juga melatih kita untuk senantiasa menjadi manusia berhati yang selalu peka terhadap masalah-masalah kelaparan yang terjadi di sekitar kita. Manusia berhati adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsu serakahnya karena memiliki empati yang luar biasa.
Jika manusia berhati telah lahir dan mendominasi kehidupan dunia ini, maka masalah kemiskinan dan kelaparan sesungguhnya akan mudah diatasi, karena manusia berhati akan dengan senang hati berbagi rizki, sementara manusia tak berhati senang sekali mendominasi rizki bahkan merebut rizki yang bukan haknya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun