Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Rabu, 17 Agustus 2011

Menyinggung Islam, Raperda Manokwari Kota Injil Ditinjau Kelayakannya


MANOKWARI (voa-islam.com) – Raperda Manokwari Kota Injil belum disahkan karena menunggu verivikasi kelayakan. Bupati dan DPRD minta Raperda ditinjau ulang, terutama yang menyangkut agama Islam, antara lain larangan jilbab dan gema azan. Global Future Institute (GFI) menengarai, gagasan Raperda tersebut sebagai dijadikan pintu masuk bagi para misionaris Kristen/Katolik sebagai kedok dari operasi aparat intelijen Asing. Di balik Raperda ini ada konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario memecah-belah Papua.
Hingga saat ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manokwari belum membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Manokwari sebagai Kota Injil. Sejak digagas pada hari Peringatan Injil masuk di Manokwari, 5 Februari 2005 silam, Raperda tersebut tidak pernah menemui kesepakatan dan terus menjadi bahan polemik.
Karenanya, Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Manokwari, Papua Barat, mendesak DPRD Manokwari untuk mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Kota Injil di wilayah itu.
 “Kami mendesak, ini tidak bisa ditunda-tunda lagi, sudah terlalu lama masyarakat menanti,” kata Barnabas Mandacan, Ketua DAP Manokwari, Kamis (11/8/2011).
Menurutnya, Raperda Kota Injil bertujuan positif, setidaknya bisa mengatur kehidupan masyarakat yang heterogen untuk lebih harmonis dalam tuntunan Alkitab (Bibel). Bila ada pendapat yang menentang, baginya, wajar-wajar saja.
“Kita mau menyelaraskan semuanya, Perda itu penting, sehingga jangan ada tarik ulur lagi,” ujarnya.
Menanggapi desakan itu, Wakil Bupati Manokwari, Robert Hammar mengkhawatirkan adanya konflik jika Raperda itu disahkan, karena pembahasan Raperda tersebut terbentur dengan belum adanya kesepahaman warga dan tokoh terkait.
....Jika ini jadi disahkan, saya khawatir malah akan menimbulkan gejolak...
“Jika ini jadi disahkan, saya khawatir malah akan menimbulkan gejolak, jadi memang perlu pemikiran matang,” katanya.
Pemerintah Manokwari, kata dia, siap mensosialisasikan Perda Kota Injil apabila telah disahkan. Namun menurutnya, perancang Perda harus lebih jauh melihat ke depan agar tidak menimbulkan konflik. Misalnya, terkait ketentuan pelarangan kerja di Hari Minggu atau melarang penerbangan pesawat pada hari ibadah umat Kristen.
“Parahnya adalah kalau Perda itu jadi, ada pelarangan tempat berdiri prostitusi, kalau itu ditutup, malah akan menciptakan tempat prostitusi liar yang sangat banyak, nah apakah kita semua bisa menanggulangi ini,” tanyanya.
Hammar menambahkan, saat ini pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengesahkan Raperda, selain menunggu verifikasi kelayakan. “Ada beberapa benturan, ya kita tidak bisa buat apa-apa, kita masih menunggu verifikasinya apakah itu layak atau tidak,” katanya.
Hammar berharap, Raperda itu baiknya hanya mengatur soal umum dan tidak menyinggung hak asasi agama lain, misalnya soal penggunaan jilbab atau gema azan magrib. “Itu kan hak asasi seseorang, toh di Aceh juga tidak ada pelarangan kalau umat Kristen tidak boleh beribadah, jadi menurut saya baiknya diatur kembali raperda itu,” tutupnya.
....Raperda itu baiknya tidak menyinggung hak asasi agama lain, misalnya soal penggunaan jilbab atau gema azan magrib. Itu kan hak asasi seseorang...
Senada itu, Daud Indouw, Ketua Komisi B DPRD Manokwari mengatakan, pihaknya terbentur dengan belum adanya bahan Raperda yang akan dibahas. “Raperda itu sudah kami kasih ke pemerintah dan akademisi untuk ditinjau, karena harus melewati tahap verifikasi, namun sampai sekarang kami belum dapat laporannya,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun nantinya disahkan menjadi Perda, belum tentu langsung akan diterima masyarakat. “Karena kan harus disosialisasikan, jadi tidak langsung saja begitu,” katanya.
Indouw memandang, Raperda tersebut harus berdasar pada kondisi riil masyarakat Manokwari. Setidaknya pasal yang menyinggung hak asasi umat non-Kristen patut dikaji ulang. “Misalnya soal bahasa yang dikemas agar tidak boleh menggunakan jilbab, itu kan hak asasi mereka (Muslim) kita harus menghormatinya. Saya kira perlu dicermati lagi,” pungkasnya.

Skenario Amerika untuk Pecah Belah Papua?

Kontroversi Raperda Kota Injil Manokwari semakin menjadi, ketika Global Future Institute (GFI) merilis kecurigaan adanya konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario memecah-belah Papua.
“Konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario balkanisasi nusantara, rupanya punya banyak cara. Di Papua, isu keagamaan sepertinya akan dijadikan alat politik untuk menciptakan konflik sosial antar golongan. Pemicunya, dengan akan dikeluarkannya Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) Kota Injil Manokwari. Benarkah USAID terlibat?” tulis Hendrajit, Direktur GFI dalam artikel bertajuk “Monokwari Raperda Kota Injil Manokwari, Skenario Amerika Pecah Belah Papua?” yang dirilis 22 April 2010.
Global Future Institute mencermati Raperda Injil dengan penuh keprihatinan yang amat sangat. Pasalnya, di beberapa jalan protocol Kota Manokwari hingga ke desa-desa terdapat spanduk bertuliskan: ”Manokwari Kota Injil Membangun dengan Hati Mempersatukan dengan Kasih Menuju Manokwari Baru.”
 Lebih gilanya lagi, di pinggir jalan kota Manokwari juga terpampang tulisan “Selamat Datang di Manokwari Kota Injil, Tuhan Memberkati.”
Selain dinilai berpotensi merugikan salah satu agama, lanjut Hendrajit, yang tak kalah gawat adalah potensinya yang besar untuk memicu konflik beraroma agama dan kesukuan. “Di balik gerakan ini, jelas mengandung maksud untuk memicu sentimen keagamaan dan kesukuan sekaligus,” kecam Hendrajit.
Motif Raperda Kota Injil, ditengarai Hendrajit penuh kejanggalan. Mengapa usulan raperda tersebut baru digulirkan pada 2005 lalu? Sebagai daerah yang sedari awal, bermayoritaskan agama Kristen dan Katolik, apa perlunya Manokwari mengeluarkan Perda untuk dapat pengesahan dari Pemerintah? “Sepertinya memang ada agenda tersembunyi di balik usulan aneh semacam itu,” gugat Hendrajit. “Yang lebih aneh lagi, kabarnya gagasan Perda Kota Injil tersebut karena dipicu adanya rencana pembangunan masjid raya dan Islamic Center di Manokwari pada 2005 lalu,” tambahnya.
Untuk menjaga keamanan Kota Manokwari, Global Future Institute mendesak aparat intelijen yang terkait langsung dalam pemantauan perkembangan bidang politik dan keamanan nasional, untuk membaca situasi ini sebagai potensi menuju konflik antaragama. Konflik tersebut dicurigai sebagai kemasan dari konflik antara pusat dan daerah sebagai legitimasi untuk munculnya tuntutan Papua merdeka di kelak kemudian hari.
....gagasan Raperda tersebut sebagai dijadikan pintu masuk bagi para misionaris Kristen/Katolik sebagai kedok dari operasi aparat intelijen Asing...
Yang lebih berbahaya, Global Future Institute menengarai gagasan Raperda tersebut sebagai dijadikan pintu masuk bagi para misionaris Kristen/Katolik sebagai kedok dari operasi aparat intelijen Asing.
Kecurigaan tersebut didukung  oleh informasi bahwa Pemerintah Amerika Serikat,  melalui United State Agency for International Development (USAID), telah mengeluarkan dana bantuan kepada Pemda Papua sebesar 100 juta dolar AS. Dengan langsung memberikan dana bantuan kepada Pemda Papua tanpa lewat pemerintah pusat, maka wajar jika memunculkan kecurigaan  bahwa Amerika sedang berusaha menjalin kontak langsung kepada pemerintah setempat tanpa melalui pemerintah pusat.
“Bukan tidak mungkin munculnya gagasan Raperda Kota Injil merupakan konsekwensi logis dari bantuan pihak USAID tersebut,” jelas Hendrajit. “Selama ini, USAID memang telah menjadi perpanjangan tangan dari Departemen Luar Negeri Amerika, dan memiliki jalinan kerjasama strategis dengan pihak PT Freeport Indonesia, yang memiliki pertaruhan ekonomi bisnis yang cukup kuat di Papua di sektor tambang,” pungkasnya. [silum/dbs]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .