Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ø¥ِÙ†َّ الصَّÙ„َاةَ Ùƒَانَتْ عَÙ„َÙ‰ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ùƒِتَابًا Ù…َÙˆْÙ‚ُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Kamis, 04 Agustus 2011

Intelijen Tidak Bisa Melakukan Penangkapan


Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin
[JAKARTA] Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengemukakan, tidak ada pasal dalam RUU Keamanan Nasional (Kamnas) yang menyatakan bahwa intelijen bisa melakukan penangkapan. Peran intelijen adalah sebagai mata dan telinga yang memberikan masukan ke Dewan Keamanan Nasional (DKN).
“Intelijen tidak untuk menangkap. Karena sesuai peraturan perundang-undangan yang ada seperti itu. Mereka lebih banyak merupakan mata dan telinga. Jadi, persepsi-persepsi yang ada sebenarnya perlu diluruskan karena itu tidak ada dalam isi RUU Kamnas,” tegas Purnomo dalam acara silaturahmi Menhan dengan pimpinan media massa di Jakarta, Rabu (27/7) malam.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan, perlu jelas dilihat bahwa intelijen bukan kekuasaan. Intelijen tidak diberikan kekuasaan, keberadaannya sebagai instrumen negara untuk mendapatkan suatu keterangan yang akan diolah kemudian menjadi informasi intelijen.

“Dia terbatas sebagai intelijen untuk pengambilan kesimpulan. Tidak dikenal bahwa intelijen digunakan untuk kekuasaan seperti yang pernah dilakukan oleh intelijen pada masa-masa lalu. Jadi, tentu ada reformasi terhadap pemahaman dan aplikasi terhadap intelijen,” jelas Sjafrie.

Menurutnya, juga perlu dilakukan reformasi dan perubahan tingkah laku, serta struktur dari intelijen itu sendiri. Jadi, intelijen sekedar instrumen negara untuk mendapat dan mengolah informasi, serta maksimal hanya menyimpulkan. [D-12]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .