Ulama merupakan nikmat Allah kepada penduduk bumi. Mereka adalah cahaya kegelapan, pemberi petunjuk, dan hujah Allah di muka bumi. Karena mereka pemikiran sesat tersingkirkan dan kerena mereka keragu-raguan yang ada dalam hati dan jiwa tertepiskan. Mereka adalah musuh setan, penerang iman dan penyangga umat. Perumpamaan mereka di muka bumi seperti bintang dan bulan di langit, dengannya mereka menerangi gelapnya hidup, baik di daratan maupun di lautan. Jika bintang bersinar dan kegelapan tersingkap, maka merekapun dapat melihat.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi adalah seperti bintang-bintang di langit, yang dengannya menerangi kegelapan di daratan dan lautan. Maka jika bintang itu tenggelam, hampir-hampir petunjuk pun menyesatkan.” (HR Ahmad bin Hambal)
“Sesungguhnya segala makhluk yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan di air, memintakan ampunan untuk orang alim. Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah penerus para Nabi.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi)
Rasulullah Saw juga bersabda ketika diceritakan kepadanya dua orang, yang satu ahli ibadah dan satunya orang alim:
“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan saya atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut di dalamlubangnya, dan hingga ikan di dalam air, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah)
Semua keutamaan itu dimiliki para ulama yang mengamalkan ilmunya, yang berani menyuarakan kebenaran, yang cinta kebaikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang munkar, yang kritis kepada para penguasa dengan senantiasa memberikan nasihat kepada mereka, yang rela bangun malam demi kemaslahatan kaum Muslimin, menjag urusan umat, tabah menerima segala cobaan dan kesulitan dalam menjalankan semua tugas-tugas itu.
Memang, semua kemuliaan itu hanya diberikan kepada para ulama yang menjaga Islam, yang merasa nyaman berteduh di bawah Islam, yang menyeru para penguasa untuk menerapkan Islam dengan jujur dan berani, yang berhias dengan akhlak para Rasul. Maka tugas mereka adalah mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah, dengan mengatakan kepada orang-orang zalim bahwa kalian telah berbuat zalim, berkata kepada orang-orang yang berbuat kerusakan bahwa kalian telah berbuat kerusakan, dan berkata kepada orang-orang yang berbuat maksiat bahwa kalian telah berbuat maksiat. Mereka memperbaiki kerusakan dan meluruskan kebengkokan, tidak takut kepada siapapun, dan tidak takut kepada hinaan. Mereka mengatakan kepada semua manusia –baik penguasa maupun rakyat- mari kita menaapak jalan Islam, jalan keselamatan, yaitu jalan Allah yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.
Para ulama tidak takut kepada para penguasa yang bengis dan kejam, karena mereka beriman kepada sabda Rasul dan Nabi mereka, Muhammad saw, yang diriwayatkan Imam Husain bin Ali ra, :
“Barangsiapa melihat penguasa lalim, yang menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah, melanggar janji Allah, menentang sunnah Rasulullah, melakukan dosa dan permusuhan terhadap hamba allah, lalu dia tidak mengubah dengan perkataan ataupun perbuatan, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke dalam tempat masuk mereka.” (diriwayatkan oleh Ath-Tabari dalam At-Taarikh)
Mereka tidak mendiamkan kebenaran yang harus disuarakan, tidak menyembunyikan hukum syariat atau permasalahan baiik yang berkaitan dengan maslahat umat, masalah pemerintahan, maupun tindakan para penguasa. Karena mereka percaya kepada firman Allah:
Sesungguhnya orang-orang yang mnyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, (QS. Al Baqarah [02]: 159)
Juga firman Allah Swt: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," (QS. Ali Imran [03]: 187)
Kemudian sabda Rasulullah saw: “Orang yang tidak menyuarakan kebenaran adalah setan bisu.”
Mereka adalah para ulama yang berhak menyandang nama yang penuh berkah itu, sebagaimana Islam menyifati mereka dan sebagaimana diinginkan Allah untuk menjaga Kitab dan agama-Nya, serta sebagaimana Rasulullah meridai mereka menjadi pewarisnya dalam menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Wallahua’lam. (msr)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun