Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ø¥ِÙ†َّ الصَّÙ„َاةَ Ùƒَانَتْ عَÙ„َÙ‰ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ùƒِتَابًا Ù…َÙˆْÙ‚ُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Minggu, 03 Juni 2012

Kabar Gembira..., Azab untuk Pelaku Lesbi dan Homo Ditunda!

Muhammad adalah rahmat bagi semesta alam. Termasuk bagi orang-orang kafir dan pelaku kemaksiatan. Mereka tidak diazab di dunia secara langsung, tetapi ditunda hingga di akhirat.

Diriwayatkan dari Aisyah, sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah,“Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud? Nabi menjawab, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalail bin Abdi Kulal, tetapi mereka tidak merespon ajakanku. Maka aku pun pergi dengan penuh kegundahan di wajahku, lalu aku tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarn Ats-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,” Nabi melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka. Nabi saw menjawab, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Kisah yang disampaikan Rasulullah itu adalah peristiwa yang menimpa beliau di Thaif saat mencari dukungan bagi dakwah Islam (thalabun nushrah). Di Thaif beliau tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Sebaliknya, orang-orang kafir itu mencaci maki dan bahkan melempari Rasulullah Saw dengan batu. Tubun Rasulullah bercucuran darah. Demikian pula dengan pembantu beliau, Zaid bin Haritsah.

Hantaman fisik yang beliau terima dalam peristiwa ini cukup keras, namun hantaman psikis lebih parah dan lebih dahsyat. Sehingga beliau limbung dan terus memikirkannya sejak beliau keluar dari Thaif hingga tiba di Qarn Ats-Tsa’alib. Saat itu Rasulullah berdoa dengan doa yang sangat terkenal, yang menunjukkan duka dan lara yang memenuhi hati beliau, karena kerasnya siksaan yang beliau terima.

“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Paling Pengsih di antara pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, engkaulah Rabbku, kepada siapa hendak engkau serahkan diriku?. Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku?. Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-mu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau rida. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu”.

Doa dari orang termulia di dunia ini langsung dijawab Allah Swt dengan mengutus Malaikat Jibril. Jibril mengabarkan bahwa Allah Swt telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk melakukan apapun yang Rasulullah kehendaki. Kalaupun beliau mau agar sikap orang-orang kafir Thaif saat itu dibalas seketika, kontan, tentu sangat mudah bagi Rasul untuk melakukannya. Tapi ternyata sikap kasih sayang tetap mendominasi dalam diri Rasulullah saw di tengah petaka yang baru saja beliau terima.

Inilah juga yang dapat dipahami dari ayat 107 dalam Surat al-Anbiya. “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Syeikh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwatut Tafaasir, menafsirkan ayat diatas dengan kalimat, “Hai Muhammad, Kami tidak mengutus kamu, kecuali untuk merahmati makhluk seluruhnya.”

Guru Besar Fakultas Syariah dan Studi Islam Universitas King Abdul Azis Makkah, itu menjelaskan bahwa Muhammad adalah rahmat bagi semesta alam, bukan hanya bagi orang-orang mukmin, sebab Allah merahmati makhluk dengan mengutus Muhammad. Junjungan seluruh rasul, sebab beliau datang kepada mereka dengan keberuntungan yang besar dan keselamatan dan celaka yang besar. Dari tangan beliau, mereka memperoleh banyak kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau mengajarkan mereka ilmu setelah mereka bodoh dan menunjukkan mereka setelah sesat. Maka beliau adalah rahmat bagi semesta alam, termasuk bagi orang-orang kafir. Mereka dirahmati berkat Muhammad, dimana siksa mereka ditunda dan Allah tidak memusnahkan mereka dengan siksa dunia, seperti siksa merubah wajah, menenggelamkan ke dalam bumi dan tenggelam. 

Ini juga sekaligus jawaban atas lontaran bodoh yang disampaikan dedengkot Liberal, Ulil Abshar Abdalla, ketika dia mendukung perilaku lesbian Irshad Manji. Demi mendukung lesbianisme dan homoseks, di twitternya Ulil berkicau, “ya kalau betul kaum nabi Luth diazab karena lesbianisme, knp kaum lesbian tak diazab skg”. Komentar lainnya, “kalau betul kaum lut dihujani batu krn lesbianism, kenapa Tuhan tidak melakukan hal yang sama skg pd mereka? kok mereka aman2 sj.”

Wahai Ulil, Irshad Manji dan lesbi-lesbi, serta pelaku homoseksual lainnya, berdasarkan ayat 107 Surat Al Anbiya, memang kalian tidak akan menerima azab di dunia. Tetapi jangan lupa, azab dan siksa Allah Swt akan diganjar pada kalian kelak di akhirat. Ingat, siksa Allah itu teramat pedih, maka bertaubatlah.

shodiq ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .