Lebih
dari 100 orang memenuhi masjid Al Huda Gading Solo saat digelar kajian
perdana gerakan #IndonesiaTanpaJIL wilayah Solo, Ahad, 3/06/2012. Kegiatan kajian dan diskusi bertajuk Akar Kemunculan Pemikiran Liberal di Dunia Barat dan Implikasinya di Dunia Islam itu menghadirkan 2 pembicara utama yaitu ustadz Arif Wibowo (Pusat Studi Peradaban Islam Surakarta) dan ustadz Abdul Rachim Ba'asyir (PP. Al Mukmin Ngruki) serta satu pembicara tambahan, ustadz Sufyan Basweidan (pengampu situs basweidan.com dan mantan salah satu pengampu konsultasi syariah Muslimdaily).
Sufyan yang diminta menjadi pembicara pertama menyampaikan dasar-dasar hikmah kehidupan dan penciptaan manusia, tujuan penciptaan manusia di bumi, serta sedikit pembahasan mengenai bahaya liberalisme yang dianggapnya sebagai bentuk pemberontakan terhadap Allah SWT.
Sayangnya, lulusan pascasarjana Universitas Madinah jurusan Ulumul Hadits itu tidak bisa melanjutkan kegiatan dan harus pamit di tengah-tengah acara setelah menyampaikan beberapa materi.
Sementara, pembicara kedua Abdul Rachim Ba'asyir menyampaikan pengertian liberalisme dan bahaya liberalisme agama.
"Liberalisme itu sebuah ideologi, pandangan filsafat yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah segala-galanya. Atau secara umum liberalisme adalah suatu gerakan yang mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas dan menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama," urainya.
Atas definisi itu, menurut ustadz Iim (panggilan akrabnya) tidak mungkin manusia bisa hidup bebas. Ia berargumen bahwa setiap manusia pasti terikat dengan ikatan-ikatan tertentu entah itu ikatan ilahi, ikatan nafsu, ikatan kehendak, atau ikatan-ikatan lainnya.
Dalam kesimpulannya, ia mengatakan bahwa liberalisme itu sangat berpotensi merusak tatanan kehidupan dunia, sehingga ia menghimbau agar umat manusia kembali kepada aturan-aturan ilahi karena Allah-lah yang menciptakan manusia dan seisinya.
Pembicara terakhir, ustadz Arif Wibowo dari Pusat Studi Peradaban Islam Surakarta menyampaikan tentang sejarah masuknya Islam dan dakwah Islam di Indonesia yang sangat bertentangan dengan konsep-konsep ide liberalisme yang diusung para aktivis liberal.
Arif juga menyampaikan beberapa bukti sejarah tentang metode penjajahan Belanda di Indonesia yang memiliki banyak kemiripan dengan metode para aktivis liberal yang menyebarkan pemikirannya di Indonesia.
"Mereka (aktivis JIL dan liberal) itu lebih pas disebut sebagai pewaris penjajah di Indonesia daripada seorang cendekiawan Islam. Pemikiran mereka itu hanya sekedar copy-paste dari pemikiran kaum liberal Kristen barat (Eropa) bahkan sama sekali tidak ada proses editing sama sekali," kata koordinator PSPI Surakarta itu.
Kegiatan kajian perdana #IndonesiaTanpaJIL wilayah Solo itu cukup mendapat apresiasi dari peserta kajian.
"Antusiasme peserta kajian sangat bagus. Beberapa peserta meminta agar diadakan kegiatan serupa di Solo. Menurut mereka, kegiatan kajian yang seperti ini (Kajian ilmiah #IndonesiaTanpaJIL_red) sangat jarang diadakan di Solo. Bahkan ada peserta yang mengatakan baru pertama kali menghadiri sebuah kajian ilmiah yang sangat menarik seperti ini di kota Solo," kata Amin Mualim, koordinator gerakan #IndonesiaTanpaJIL wilayah Solo.
Respon yang sama diungkapkan oleh dua pembicara utama yang merasa senang dengan antusiasme para peserta dalam kajian. Keduanya setuju jika kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin. [muslimdaily]
*Keterangan gambar: salah satu sudut tempat kajian (sejumlah peserta)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun