Jakarta (SI ONLINE) - ‘’Terima kasih, kami terharu atas perhatian dan kepedulian sahabat-sahabat Indonesia,’’ ucap Ummu Madinah, Ketua Gerakan Perempuan Pattani pada Yayasan Lukmanul Hakim Yala, Thailand, dalam silaturahim dan dialog dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) di Gedung Menara Dakwah Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Pertemuan yang difasilitasi Forum Solidaritas Dunia Islam (FORSIDIA) Dewan Da’wah, itu diikuti perwakilan dari LAZIS Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Yayasan Baitul Maal Bank BRI, Bamuis BNI 46, PPPA Daarul Qur’an, Bazis DKI Jakarta, dan lain-lain. Sedang Umu Madinah didampingi Ustadz Abu Jihad dan Ustadz Najib dari yayasan yang sama.
Ustadz Najib berharap, kunjungannya ke Indonesia mendapat sokongan kemanusiaan berupa beasiswa pendidikan, sarana pembelajaran, dan tunjangan guru untuk kaum muslimin Pattani. Para utusan LAZ dan BAZ serta LSM sepakat untuk memobilisasi bantuan yang diperlukan. ‘’Insya Allah kami siap bantu, nanti lewat koordinasi LAZIS Dewan Da’wah,’’ kata Direktur YBM BRI, yang diamini para perwakilan dari lembaga lain.
Menurut Direktur YBM BRI, Nasir Tadjang, pendidikan generasi muda Pattani merupakan sektor strategis yang perlu diprioritaskan untuk dibantu. ‘’Perjuangan Muslim Pattani sangat bergantung pada kualitas sumberdaya manusianya,’’ tandas Nasir.
Sebelumnya Ustadz Abu Jihad menuturkan, umat Islam Pattani selama ini disebut khaek (tamu), yang berarti orang asing, bukan penduduk asli. Predikat itu disertai penjajahan struktural maupun kultural. Muslim Pattani hidup di tiga Wilayah Selatan Thailand, yaitu Narathiwat, Pattani dan Yala. Mereka orang Melayu yang menjadi minoritas di negeri Thailand, tapi mayoritas di wilayah bagian Thailand Selatan sejatinya memang tidak senafas dengan Thailand secara keseluruhan.
Sebelum abad XV, Provinsi Pattani, Yala, Narathiwat, dan Songkhla berada di bawah naungan Kesultanan Pattani yang diperebutkan oleh Kerajaan Siam di utara dan Kesultanan Malaka di selatan. Walau secara budaya dekat dengan Malaka, namun secara politik Pattani di bawah pengaruh Siam.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, membuat Pattani harus menyerahkan ‘’bunga emas’’ atau upeti kepada Siam agar wilayahnya tidak diganggu. Namun simbol penyerahan upeti ini dianggap Siam sebagai penyerahan kedaulatan. Kemudian lemahnya Siam, terlebih setelah diserbu oleh pasukan Burma, membuat Pattani kemudian tak lagi menyerahkan upeti.
Tahun 1902 Pattani bersama Kedah, Perlis, Kelantan, dan Trengganu resmi di bawah kekuasaan Siam. Perjanjian Siam-Inggris tahun 1909, memaksa Siam menyerahkan semua daerah di atas kepada Inggris kecuali Pattani.Tahun 1933 Siam membagi Pa
Hingga saat ini, 80 persen (sekitar 2,6 juta) penduduk ketiga provinsi ini menganut agama Islam, berbudaya dan berpakaian Melayu, dan menggunakan bahasa Melayu Jawi sebagai bahasa ibu. Namun, ekspresi spiritual dan budaya mereka senantiasa terancam.
Rep: Shodiq Ramadhan/Bowo








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun