Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Rabu, 07 Desember 2011

Gories Mere “The Most Wanted of Mujahidin” kesandung korupsi!

 
JAKARTA (Arrahmah.com) – Gories Mere, The Most Wanted of Mujahidin kini kena batunya. Satu persatu musuh-musuh Islam ditampakkan keburukannya oleh Allah SWT. Gories Mere, mantan Kadensus, mantan komandan Tim Satgas Bom, dan kini menjabat pimpinan Badan Narkotika Nasional (BNN) tersandung korupsi dalam proyek Solar Home System (SHS), bersama Sutan Bhatoegana (politisi partai Demokrat), dan Wisnu Subroto (mantan Kejaksaan Agung) yang menilep uang rakyat sebesar Rp. 131,2 miliar. Beranikah pimpinan KPK yang baru mengusut musuh besar umat Islam tersebut?
Gories Mere, The Most Wanted of Mujahidin
Nama Gories Mere sudah tidak asing lagi bagi umat Islam, terutama mujahidin, Hal ini dikarenakan kerasnya kebencian dan permusuhan mantan Kadensus tersebut kepada kaum Muslimin, khususnya mujahidin.
Munarman, Ketua DPP FPI dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan sedemikian bahayanya peran Gories Mere dalam memusuhi para mujahidin, beliaupun mengibaratkan mantan Kadensus tersebut sebagai DPO nomor satu bagi Mujahidin.      
“Saya kira kalau polisi punya daftar DPO maka seharusnya mujahidin juga punya daftar DPO. The Most Wanted of Mujahidin adalah Gories Mere,” ujar beliau.
Tidak berlebihan jika Gories Mere menjadi orang nomor satu dalam daftar Mujahidin, mengingat kiprahnya dalam menyakiti dan menyiksa Mujahidin. Asy Syahid (Insya Allah) Imam Samudra (rhm) pernah disiksa oleh Gories Mere, bersama Carlo Tewu. Gories Mere juga menyaksikan dan ikut memerintahkan anak buahnya menyiksa secara brutal pimpinan dan pendiri Ar Rahmah Media Network, Muhammad Jibriel AR. Tentunya masih panjang daftar kejahatan mantan Kadensus yang kini menjadi orang nomer satu di Badan Narkotika Nasional tersebut.
Namun, sepandai-pandainya anjing meloncat, pasti akan jatuh juga. Allah SWT., mulai menampakkan kebusukan dan mempermalukan musuh-musuh Islam, termasuk Gories Mere, yang belakangan ini namanya disebut-sebut tersandung kasus korupsi dalam proyek Solar Home Syetem (SHS) yang merugikan uang Negara sebesar Rp. 131,2 miliar.
Usut korupsi yang libatkan Gories!
Alhamdulillah, nama Gories Mere ikut disebut oleh Ridwan Sanjaya, melalui kuasa hukumnya, Sofyan Kasim, bahwa Gories bersama Sutan Bhatoegana (partai Demokrat) dan Wisnu Subroto (mantan Kejaksaan Agung) ikut “bermain” dalam proyek yang menilep uang Negara sebesar Rp. 131,2 Miliar.    

Ridwan Sanjaya
 “Dari DPR Sutan Bhatoegana, Polri ada Gories Mere dan dari Kejaksaan Wisnu Subroto. Ridwan bilang itu pesanan dari Dirjen (Jack Purwono) karena Dirjen tersangkut perkara di Kejaksaan,” ujar Sofyan di Pengadilan Tipikor.
Pihak Polri nampaknya mempersilahkan KPK untuk memeriksa lebih lanjut Gories Mere. Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar mempersilahkan KPK untuk memeriksa Gories lebih jauh. Kalau pun nanti KPK akan memanggil Gories Mere, Boy mengatakan KPK tidak perlu meminta izin pada Polri. “Silahkan saja,” tandas Boy.
Hal senada disampaikan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution, kemarin. Saud mengatakan, bila polisi terindikasi melakukan tindak pidana, maka diproses secara pidana.
“Ya kalau KPK kan tidak melihat siapapun, polisi termasuk sipil juga. Jadi kami ini Polri, bilamana ada tindak pidana diproses secara pidana, maka penyidiknya kalau korupsi bisa KPK. Kalau itu pelanggaran kode etik baru kita sidangkan secara kode etik,” kata Saud.
Sementara itu, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan katakami.com, Gories Mere yang tersandung kasus korupsi proyek SHS mengaku tidak ada urusan dengan kasus itu dan mengaku tidak kenal.
“Saya gak urusan dengan kasus itu. Saya gak kenal.  Kenapa nama saya disebut-sebut. Orang lain yang korupsi, kenapa nama saya yang disebut-sebut?”, ujar Gories.
Gories dalam wawancara tersebut juga mengaku tidak punya perusahaan dan membangga-banggakan kiprahnya dalam menangani “teror” yang sebenarnya adalah pembantaian terhadap Mujahidin di negara ini. Dalam wawancara tersebut juga disinggung peran Gories di lembaga yang dipimpinnya sekarang, yakni Badan Narkotika Nasional (BNN).

Sutan Bhatoegana
Menurut Munarman, Gories Mere yang dulu memimpin Tim Tim Satgas Bom, dan langsung melapor ke AS, biayanya ditanggung oleh AS dan biaya dari narkoba, karena pemerintah RI tidak mampu membiayai.
 “Biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Amerika Serikat dan biaya-biaya dari narkoba. Dalam laporan deradikalisasi itu bahkan Gories Mere sendiri menyebutkan, ‘Karena pemerintah tidak menyediakan dana yang cukup untuk program deradikalisasi maka saya dan teman-teman polisi lain mencari sumber dana dari non-APBN,’” ungkapnya.
Masih menurut Munarman, dana non-APBN dalam operasi Tim Satgas Bom itu salah satunya adalah penjualan narkoba hasil penangkapan di Badan Narkotika Nasional (BNN). “Kita tahu lah sumber dana non-APBN seperti apa. Di situlah sebenarnya permainan-permainan kenapa narkoba tidak hilang-hilang, ditangkap dijual kembali. Bahkan menurut teman-teman yang pernah menangani kasus narkoba, mereka itu dipelihara oleh Gories Mere dan kalau sudah tidak diperlukan lagi maka si Bandar Narkoba itu akan ditembak,” jelasnya.
Ketika diwawancara oleh katakami.com juga sempat ditanyakan masalah beking kalangan Bandar narkoba, dan Gories berusaha membantah tudingan tersebut.
“Membekingi dan melindungi siapa ? Coba sebutkan dan tunjukkan jaringan narkoba mana yang belum kami hancurkan ? Jaringan narkotika manapun di negara ini, akan saya hancurkan. Tidak ada perkecualian, semua akan dihancurkan mata rantainya.”
Beranikah KPK “potong tangan” Gories?
Dalam sebuah wawancara di Metro TV, Ketua KPK terpilih, Abraham Samad mengutip kisah di zaman Rasulullah SAW., yang memberikan jaminan kepastian dan keadilan hukum (Islam) yang diterapkan pada masa itu dengan ucapan Beliau SAW., yang terkenal, jika putriku Fatimah yang mencuri, pasti aku akan potong tangannya.

Abraham Samad
Abraham Samad, pimpinan KPK yang terpilih pada Jum’at (2/12/2011) lalu kemudian berjanji tidak akan tebang pilih dalam menindak kasus korupsi dan berjanji jika ada dari anggota keluarganya melakukan tindak pidana korupsi, maka juga akan diusut tuntas.
Kini, seorang Gories Mere, The Most Wanted of Mujahidin telah disebut-sebut ikut bermain dalam proyek Home System (SHS), yang telah menilep uang rakyat sebesar Rp. 131,2 miliar. Abraham Samad, Ketua KPK yang baru juga sudah berjanji untuk tidak tebang pilih dalam memberantas korupsi, meski pelakunya dahulu adalah seorang petinggi Polri, dan saat ini menjabat ketua BNN. Kita tunggu langkah cepat KPK memeriksa Gories Mere, dan “memotong tangan” musuh umat Islam tersebut, jika memang merampok uang negara miliaran rupiah. Allahu Akbar!
(M Fachry/arrahmah.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .