Pages - Menu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kiamat di Irak, 107 Tewas, 287 Luka, Akibat Serangan Bom

Bagdad, Paling sedikit 107 orang tewas dalam serangan bom dan senjata di Irak, Senin.

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ø¥ِÙ†َّ الصَّÙ„َاةَ Ùƒَانَتْ عَÙ„َÙ‰ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ùƒِتَابًا Ù…َÙˆْÙ‚ُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Rabu, 21 Desember 2011

Militer Israel Menahan 3 Pria yang Mencoba Menyeberangi Perbatasan Gaza



Pasukan Israel menahan tiga orang Senin malam lalu di pusat Jalur Gaza setelah mereka dikabarkan mendekati pagar keamanan yang memisahkan Israel dan Jalur Gaza.
Saksi mata mengatakan bahwa orang-orang itu mencoba untuk menyeberangi perbatasan secara ilegal untuk bekerja di Israel.
Tentara memberi tembakan peringatan di perbatasan dan pasukan dikerahkan untuk menahan orang-orang ini, yang berasal dari kamp pengungsi al-Bureij.
Seorang jurubicara militer Israel mengatakan bahwa tiga tersangka diidentifikasi mencoba menyeberangi pagar keamanan dan ditangkap oleh tentara dan dipindahkan ke tahanan keamanan untuk diinterogasi.(fq/mna)

Kol. (Purn) Herman Ibrahim: Pendiri Bangsa ini adalah Orang Yahudi

CIANJUR (voa-islam.com) – Kol. (Purn) TNI Y. Herman Ibrahim selaku salah satu pemateri dalam acara “Sarasehan & Silaturahmi Aktivis Muslim serta Organisasi & Gerakan Islam se-Indonesia” yang diadakan GARIS (Gerakan Reformis Islam) pada Sabtu – Ahad 17-18 Desember 2011 kemarin di Cianjur Jawa Barat, membeberkan fakta baru yang cukup mencengangkan.
“Determinasi Zionisme di Indonesia bukan hanya sekarang saja, tapi sudah terjadi sejak lama. Di dalam buku Heri Nurdi dengan judul ‘Melacak Jejak Freemasonri’ (Organisasi rahasianya Zionisme Yahudi) disebutkan bahwa founding father / Pendiri Bangsa ini adalah orang-orang Fremason / Yahudi. Sebut saja Wahidin Sudiro Husodo, Ki Hajar Dewantara Taman Siswa dan para deklarator proklamasi pendiri bangsa ini lainnya seperti Supomo, Muhammad Yamin, Sukemi (orang tuanya Suharto), mereka semua itu Freemason / Yahudi. Ini data faktanya ada dan bukan rekayasa. Dan di negara ini, secara Eksplisit didirikan oleh orang-orang Yahudi,” ujarnya.
Lebih lanjut purnawirawan TNI itu mengatakan “Tapi kita jangan langsung menyerang institusinya / negara ini, dan saya juga tidak ingin membubarkan Indonesia, meskipun yang menguasai adalah orang-orang Yahudi. Tapi yang harus kita serang dan musuhi adalah orang-orangnya saja. Jadi, siapa yang sebetulnya lebih berhak untuk bekuasa mengatur Negara ini? Orang Islam.
Tapi dari dulu sampai sekarang kita malah diatur oleh segelintir orang (Yahudi) yang telah mengibuli para ulama waktu itu. Yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang Islam melalui semangat jihadnya. Tidak ada satupun orang Kristen atau laskar Kristus yang membela & memperjuangkannya. Ada nggak orang Kristen yang ikut berjuang melawan Penjajah waktu itu? Nggak ada. Jadi kita ini sering dikibuli oleh orang-orang yang mengatakan bahwa pendiri bangsa ini adalah para ulama, ndak betul itu. Yang betul-betul berjuang adalah ummat islam dan para ulama, tapi yang mendirikan Negara ini adalah orang-orang Yahudi,” jelasnya dihadapan ratusan aktivis Islam yang hadir.
Sesi ke-4 dengan tema “Tinjauan Kritis UU Tindak Pidana Terorisme & UU Intelejent” juga diisi oleh Munarman, SH selaku pemateri pertama yang menyampaikan makalahnya sebelum Kol. (Purn) Y. Herman Ibrahim menyampaikan materinya.
Diakhir acara, seluruh Ummat Islam yang hadir dari berbagai Organisasi Islam dan pergerakan islam tersebut menghasilkan 6 butir pernyataan yang akan direkomendasikan dan diserahkan kepada pemerintahan SBY dan juga kedepannya akan dijadikan pijakan bagi umat Islam dalam melangkah untuk memperjuangkan tegaknya syari’at Islam. (Bekti Sejati/KRU FAI)

Abu Rusdan:Bukan Seragamkan Pendapat, Tapi Mengkomunikasikan Perbedaan

Jakarta (voa-Islam) – Saat menanggapi buku Mereka Bukan Thagut  karya Khairul Ghazali di Hotel Sahid, Sabtu (17/11) lalu, tokoh Jihadis Ustadz Abu Rusdan mengatakan, bahwa perbedaan itu adalah suatu fakta. Tentu saja, menyeragamkan suatu pendapat merupakan kemustahilan. Yang bisa kita lakukan adalah membuka pintu komunikasi. Setidaknya, mengkomunikasikan perbedaan itu.
“Jangan sampai, perbedaan itu justru membawa mudharat bagi umat. Beradab, logis argumentatif, komunikatif dan dialektis adalah empat pilar yang harus diperhatikan dalam mengkomunikasi perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama dan aktivis Islam,” ujar Ustadz Abu Rusdan.
Seperti diketahui, banyak ulama memiliki pandangan berbeda dalam memaknai dan memahami istilah thagut. Belum ada kesepakatan ulama mengenai hal itu. Kritik tajam Khairul Ghazali terhadap tulisan-tulisan Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman (terpidana kasus Bom Cimanggis) atas pelabelan thagut kepada PNS, penguasa dan aparatur negara, membuat keduanya saling berburuk sangka. Belum ada upaya untuk mengkomunikasikan perbedaan pendapat itu agar tidak terjadi salah paham.
“Saya kira perlu ada upaya mengkomunkasikan perbedaan antara Ustadz Aman Abdurrahman dengan Ustadz Khairul Ghazali. Keduanya adalah saudara saya. Walaupun, saya sendiri bergaul lebih lama dengan Ustadz Aman Abdurrahman secara pemikiran dan perasaan,” saran Ustadz Abu Rusdan bijaksana.
Satu hal, kata Abu Rusdan, kita tidak ingin membuktikan, bahwa kita lebih pandai dari siapapun. Bukan itu tujuannya. Kita tidak ingin menghakimi, apalagi sampai memvonis radikal ekstrimis ideologis. Sesungguhnya, tinggal bagaimana kita mengkomunikasikan perbedaan. Sehingga perbedaan ini menjadi manfaat bagi kita sekalian.
“Kita sepakat, komunikasi kita dilandasi oleh empat pilar, yakni:  Beradab, Logis  argumentatif, Komunikatif dan Dialektis. Diantara kita, tidak mungkin berpendapat sama. Mari kita berpikir, prosesnya harus pelan-pelan. Jangan sampai dalam mengkomunikasikan sesuatu dilakukan dengan cara  yang bersifat radikal. Sesama Muslim, hendaknya kita saling mengingatkan dengan dilandasi sikap marhamah. Ini penting,” ungkap Abu Rusdan.
Lebih lanjut Abu Rusdan menerangkan, ikhtilaf menurut para ulama ada dua, yakni: bersifat variatif dan kontradiktif. Karena itu, mengngkomunikasi perbedaan pendapat itu sebaiknya tidak bersifat kontradiktif.
“Secara intensif, saya dua tahun belajar pada Ustadz Abullah Azzam, baik dalam kuliah ataupun discus-discus informal. Tanpa bermaksud membela, jika ada satu-dua saudara saya melakukan kekeliruan, lalu menisbatkan pada Abdullah Azzam, maka beliau berlepas diri dari urusan itu,” kata Abu Rusdan yang dekat dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.
Menurut Abu Rusdan, ada hal yang membedakan thagut dengan hamba thagut. Dikatakan thagut, jika ia merampas hak Allah dan mengklaim hak Allah. Itu thagut. Tapi bila merampas dan mengalungkan kepada hamba lain, dia disebut hamba thagut.
Firaun yang menyebut dirinya Aku adalah tuhan yang maha tinggi adalah thagut. Begitu juga ketika Fir’aun berkata, Aku lah yang menghidupkan dan mematikan. Kata-kata itu hanyalah hak prerogatif Allah. Thagut yang disepakati ulama adalah: Iblis laknatullah, menyeru dan mengajak manusia untuk menyembah dirinya, membuat undang-undang dan peraturan yang menyebabkan mereka melawan hukum Allah, mengklaim mengusai ilmu ghaib. Dan yang menjadi titik krusial kita adalah menetapkan hukum yang selain hukum Allah.
Adapun tulisan-tulisan Ustadz Aman Abdurrahman itu bersifat takfir mutlak, bukan muayyan. Ustadz Aman hanya mengatakan orang yang begini itu kafir, tapi dia tidak mengatakan si fulan - si fulan kafir. Tidak sesederhana itu. Tapi bagi mereka yang tidak memahami pemikiran Ustadz Aman, akan menganggap seolah-olah beliau mengatakan si fulan kafir. Agar adil dan komunikatif, dihadirkan saja Ustadz Aman dalam suatu kesempatan untuk menjelaskan pikiran-pikirannya.
Ustadz Abu Rusdan sependapat, bahwa masalah thagut adalah masalah pokok dan mendasar di dalam Islam. Dalam membahasnya tentu tidak simplikasi. Kita harus mennyimpulkan dengan mencari mana pendapat yang paling kuat. “Buku Mereka Bukan Thagut, ini tidak menjawab siapa saja yang thagut. Jangan-jangan judulnya yang tepat,  Bukan Mereka Saja yang Thagut,” kata Abu Rusdan guyon. (Desastian)

Haramnya Kaum Muslim Ikut Natalan (Fatwa MUI 1981)


Kaum muslimin rahimakumullah,

Menjelang perayaan Natal bagi umat Kristiani, ada perkara yang harus difahami oleh umat Islam agar tidak terjerumus dalam perbuatan haram dan syirik. Yaitu, tentang hukum mengikuti perayaan Natal bersama yang dilakukan oleh umat Kristiani. Sebab, biasanya mereka mengajak umat Islam untuk mengikutinya sebagai balasan dari kebiasaan mereka ikut acara halal bihalal atau acara Maulid umat Islam. Umat Islam dalam hal ini tidak boleh menganggap hal itu sekedar sebagai hubungan sosial, tapi harus merujuk kepada hukum agama, bagaimana menurut agama Islam. Boleh atau tidak? Halal atau haram?

Kaum muslimin rahimakumullah,

Dalam masalah mengikuti natalan bersama umat Kristiani ini, MUI telah mengeluarkan fatwa pada tahun 1981 di masa Ketua Umum MUI Prof. Dr. Buya Hamka. Fatwa MUI yang ditandatangtani Ketua Komisi Fatwa KH. Syukri Ghazali dan Sekretaris H. Masudi tersebut intinya sebagai berikut:

Pertama, bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan:

1. Al-Qur‘an surat Al-Kafirun [109] ayat 1-6:
“Katakanlah hai orang-orang kafir, 'aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku'.”

2. Al-Qur‘an surat Al-Baqarah [2] ayat 42:
 “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”
(FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA point B)

Kedua, bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa Al-Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas:

1. Al-Qur‘an surat Al-Maidah [5] ayat 72 :
“Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam'. Padahal Al Masih sendiri berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu'. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah Neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”

2. Al-Qur‘an surat Al-Maidah [5] ayat 73:
 “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan, 'Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga)', padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang ka+fir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”

3. Al-Qur‘an surat At-Taubah [9] ayat 30:
“Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al-Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”

(FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA point D).

Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur‘an surat Al Ikhlas:

“Katakanlah, 'Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun/sesuatu pun yang setara dengan Dia'.”

Ketiga,  Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas:

1. Hadits Nabi SAW dari Nu‘man bin Basyir:
 “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang menggembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”

2. Kaidah Ushul Fiqih
 “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).” (point F dan G).

Kaum muslimin rahimakumullah

Berdasarkan tiga pertimbangan di atas, MUI memfatwakan :

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

(Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H, 7 Maret 1981, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ketua K. H. M SYUKRI GHOZALI Sekretaris Drs. H. MAS‘UDI, Sumber: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Fatwa MUI itu memfokuskan haramnya mengikuti upacara natal. Dan agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. 

Oleh karena itu, di dalam hari-hari perayaan Natal oleh Umat Kristiani, kita umat Islam cukup dengan memberikan sikap toleran, yakni dengan membiarkan mereka merayakannya dan tidak mengganggunya. 

Namun kita tetap tegas untuk tidak mengikuti perayaan tersebut karena semata menjaga kesucian agama Islam dan menjaga kemurnian aqidah kita serta keikhlasan kita dalam memeluk agama Allah SWT. Tidak mencampurkan dengan aqidah dan kepercayaan lain, apalagi sudah diterangkan kekeliruan dan kebatilannya sebagaimana dasar-dasar pertimbangan fatwa MUI di atas. Marilah kita resapi firman Allah SWT: ”Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi 120).

Sahabat Nabi saw., Ibnu Abbas r.a, dalam tafsirnya mengatakan bahwa Tuhan Yang Esa  dalam ayat tersebut  adalah Tuhan yang tanpa anak dan tanpa sekutu. 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Itulah Allah SWT, Tuhan yang benar-benar Esa dan kita diwajibkan mengesakan-Nya atau mentauhidkan-Nya.
 
Baarakallahu lii walakum...

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .