Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ø¥ِÙ†َّ الصَّÙ„َاةَ Ùƒَانَتْ عَÙ„َÙ‰ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ùƒِتَابًا Ù…َÙˆْÙ‚ُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Jumat, 18 Mei 2012

Ketua lembaga seni dan budaya NU sebut penolak konser Lady Gaga sok moralis

JAKARTA (Arrahmah.com) - Bukan NU kalau tidak membuat berita, setelah tokoh-tokohnya sering membuat pernyatan-pernyataan kontroversial, kali ini penolakan warga terhadap konser Lady Gaga juga mendapat tanggapan kontroversi dari Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia NU.
Konser Stefani Joanne Angelina Germanotta atau sering disapa Lady Gaga mendatangkan pro kontra. Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah pejabat negara menolak konser Gaga dengan alasan tak sesuai moral bangsa.
Namun, Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia NU, Al-Zastrouw Ngatawi menilai pelarangan tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan. "Tidak usah berlebihan seperti itu. Jadi, mereka ini terlalu sok moralis," kata Ngatawi, Kamis kemarin (17/5). Menurut Ngatawi, konser itu sudah sering diadakan. Sampai kini tak terjadi apapun. "Menurut saya, ini berlebihan," katanya.
Ngatawi mengatakan, konser tidak akan menjadi masalah kalau dibiarkan. Di Indonesia banyak yang menari dan aneh seperti Lady Gaga, tapi tak terjadi apa-apa. "Kalau dibiarin tidak akan apa-apa. Itu kan orang sentimentil saja," katanya.
Namun Ngatawi menyadari dari sisi pakaian, perilaku Lady Gaga mengundang kontroversi dan tidak cocok dengan tradisi masyarakat. Hanya saja, jika responnya terlalu berlebihan, reaksinya akan berlebihan. "Ini dibesar-besarkan saja," katanya.
Ngatawi menganggap pelarangan konser Lady Gaga sebagai bentuk kekhawatiran dan ketidak mampuan dalam mendidik anak dan generasi mendatang. Karena ketidakmampuan itu akhirnya mereka menggunakan alat negara. "Mereka ini kan dalam pemahaman agamanya secara instan, akhirnya menggunakan kekuatan negara untuk menekan," katanya. Cara memfilter ketakutan tersebut bisa dilakukan dengan melokalisir, tanpa berlebihan. Ia menyebut Gaga hanya masalah kecil. "Jangan sampai membunuh nyamuk dengan bom," dia memaparkan.
Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Somad mengatakan tak masalah apabila konser tersebut memperhatikan norma. Terlebih, nilai seni dan prestasi yang bisa dicontoh oleh generasi mendatang. "Ya kita ambil positif saja. Kalau melanggar norma dan aturan ya kita harus memfilternya," katanya.
Konser Lady Gaga di Stadion Gelora Bung Karno pada 3 Juni mendatang tidak mendapatkan izin dari Polda Metro Jaya. Ribuan tiket Konser Born This Way Ball ini ludes terjual. Tiketnya dibanderol dari harga Rp 465 ribu-Rp 2,250 juta. (eramuslim/arrahmah.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .