Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Minggu, 09 Oktober 2011

Benarkah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir Mengutuk Bom Solo?




JAKARTA (voa-islam.com) –
 Vonis 15 tahun yang memaksa tubuh renta KH Abu Bakar Ba’asyir dikerangkeng di balik jeruji besi, tak membuat puas para penebar fitnah. Berbagai tuduhan sepihak terus dilancarkan tiada henti.

Belakangan media massa marak memberitakan bahwa KH Abu Bakar Ba’asyir mengutuk bomber Gereja Bethel Kepunton Solo. Berita lain yang juga menjadi headline adalah tudingan bahwa pelaku bomber Solo adalah anggota Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang dibaiat langsung oleh Abu Bakar Ba’asyir.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa Achmad Yosepa Hayat adalah anggota JAT dan pernah dibaiat. “Bukan, itu yang bersangkutan pernah dibaiat. Apakah hingga saat ini yang bersangkutan masih menjadi anggota JAT, yang jelas dia pernah dibaiat,” ujarnya seperti dikutip okezone.com di kantornya, Jakarta, Senin (3/10/2011).
Untuk mengklarifikasi berita tersebut, voa-islam.com mewawancarai Ustadz Abu, demikian biasa disapa di sel Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan.
Dengan tegas, Ustadz Abu menolak bila ia dan JAT dikait-kaitkan dengan berbagai aksi pemboman rumah ibadah. Menurutnya, Islam melarang mengganggu agama lain bila mereka tidak memusuhi Islam.
“Menurut aturan agama, tidak betul cara-cara seperti itu. Meskipun ideologinya kita tolak, tidak boleh diganggu selama dia tidak mengganggu Islam. Rumusannya terhadap orang kafir itu kita tidak boleh membantu upacara agamanya dan tidak boleh mengganggu,” jelasnya, Jum’at (7/10/2011). “Membantu tidak boleh dan mengganggu pun tidak boleh kecuali ada bukti gereja itu ada musyawarah misalnya untuk menghancurkan Islam. Seperti masjid dhiror itu, ada bukti mereka membangun masjid untuk mengumpulkan tentara dari luar pura-pura Islam untuk menyerang Madinah, nah itu baru boleh dihancurkan.”
....Jamaah tidak mengajarkan macam itu, seperti di Cirebon dan di Solo. Saya sudah menyampaikan kritik, itu tidak betul menurut sunnah...
Ustadz Abu menegaskan, institusi JAT tidak pernah mengajarkan hal semacam itu, karena aksi tersebut menurutnya tidak sesuai sunnah. Ustadz Abu juga mengimbau agar para mujahidin mengimbangi semangat jihadnya dengan kajian syariat.
“Jamaah tidak mengajarkan macam itu, seperti di Cirebon dan di Solo. Saya sudah menyampaikan kritik, itu tidak betul menurut sunnah. Jadi itu urusan dia, kemungkinan dia ngaji pada orang lain. Keras itu boleh selama keras itu sesuai dengan syariat bukan sekedar semangat,” imbaunya.
Menghancurkan suatu tempat ibadah, tambahnya, baru diperbolehkan bila ada bukti bahwa tempat tersebut dipakai sebagai markas untuk menyerang Islam. “Sekarang adakah bukti bahwa gereja itu tempat musyawarah untuk menghancurkan Islam? Kalau tidak ada bukti tidak boleh, itu pandangan kita,” ungkapnya.
Namun demikian, Ustadz Abu yang tidak sependapat dengan aksi bom Gereja di Solo tetap mendoakan pelaku bom jika tujuannya untuk istisyhad semoga amalnya diterima oleh Allah Ta’ala dan diampuni kesalahannya.
“Nah kalau tujuannya mau mati syahid itu mulia, mudah-mudahan diterima oleh Allah Ta’ala dan kesalahannya diampuni,” ujarnya.
...kalau tujuannya mau mati syahid itu mulia, mudah-mudahan diterima oleh Allah Ta’ala dan kesalahannya diampuni...
Dalam wawancara siang itu, Ustadz Abu juga membantah pemberitaan di media-media nasional yang memelintir pernyataannya mengutuk aksi bomber Solo. Ia mengimbau agar berhati-hati adanya upaya memecah belah mujahidin.
“Saya tidak pernah mengutuk atau mengucapkan kata-kata terkutuk,” bantahnya. “Jadi hati-hati ada upaya memecah belah dengan memelintir pembicaraan saya,” pungkasnya. [taz/ahmed widad]      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .