Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Senin, 10 September 2012

Fadli Zon: 'Kartosoewirjo Adalah Seorang Pejuang'

Fadli Zon, politikus sekaligus sejarawan penulis buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ mengatakan bahwa Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang pejuang (Arab: Mujahid_red).
“Kartosoewirjo itu seorang pejuang. Kita harus mendudukkan sejarah secara proporsional. Meski Kartosoewirjo mempunyai kelemahan dan kelebihan, tapi dia adalah pejuang,” demikian menurut Fadli Zon dalam peluncuran bukunya Rabu (5/9) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Seperti diceritakan dalam buku-buku sejarah di bangku sekolah selama ini, Kartosoewirjo merupakan pimpinan gerakan DI/TII yang selalu dianggap sebagai seorang pemberontak NKRI.
Buku-buku sejarah SD pada tahun 80-an banyak menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan seorang penjahat kemerdekaan.
Pada 7 Agustus 1949, Imam Kartosoewirjo memang memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya. Dengan militansi yang dimilikinya, Kartosoewirjo melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
“Bung Tomo, bapak pahlawan perjuangan Surabaya pada 10 Nopember dan mantan menteri dalam negeri kabinet Burhanuddin Harahap. Dalam sebuah buku kecil berjudul “Himbauan” yang ditulis Bung Tomo pada tanggal 7 September 1977, mengatakan bahwa Kartosoewirjo telah mendapat restu dari Panglima Besar Jendral Sudirman,” tulis seorang penulis buku.
Sebelum memproklamirkan NII, Imam Kartosoewirjo adalah orang penting dalam kementerian pertahanan RI yang pernah ditawari menjadi menteri muda pertahanan RI, tetapi ia tolak. Jabatan menteri muda pertahanan tersebut kemudian diduduki oleh sahabat beliau sendiri yaitu Arudji Kartawinata.
Imam DI/TII yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia itu pada akhirnya dieksekusi regu tembak dari TNI pada 12 September 1962 di Pulau Ubi kepulauan Seribu.
Soekarno menjatuhkan hukuman mati pada Kartosoewirjo. Sebenarnya, Kartosoewirjo adalah sahabat karibnya. Dulu Soekarno, Muso (Tokoh PKI) dan Kartosoewirjo sama-sama ngekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya.
Tapi ketiganya akhirnya memilih ideologi dan jalan yang berbeda. Soekarno menjadi nasionalis, Muso menjadi komunis, sedangkan Kartosuwiryo menjadi Islamis. Nasib Imam Kartosoewirjo pun berakhir diterjang timah panas regu tembak tentara Soekarno, mantan sahabatnya sendiri.
Konon, sebelum Bung Karno bersedia menandatangani vonis mati itu, sang proklamator berkali-kali menyingkirkan berkas eksekusi mati Imam Kartosoewirjo dari meja kerjanya. Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, Bung Karno dan Imam Kartosoewirjo adalah dua orang karib.  Keduanya berguru pada orang yang sama yakni HOS Tjokroaminoto. Saat itu keduanya tinggal di sebuah rumah kontrakan milik tokoh Sarekat Islam itu.
“Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,” kata Soekarno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ Karya Cindy Adams, Terbitan Media Pressido. [mzf/muslimdaily]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .