
"Harga ini sekitar 17,33% lebih murah dari harga perdana GI sebesar Rp 750 per lembar. Jika hal ini dibiarkan, maka negara melalui ketiga BUMN (BS, DS dan MS) berpotensi dirugikan sebesar Rp 351 miliar!", kata Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara dalam siaran persnya yang dikirimkan ke Suara Islam Online, Selasa (24/1/2012)
Seperti diketahui, penawaran saham perdana (Initial Public Offering, IPO) Garuda telah terlaksana pada 11 Februari 2011. Jumlah saham yang ditawarkan 6,35 miliar lembar atau 26,67% dari total saham Garuda, dengan harga Rp 750 per lembar. Dari jumlah saham itu, ternyata hanya 3.327.331 lembar saham (52,5%) yang terserap pasar, dengan total dana yang diperoleh sebesar Rp 4,751 triliun.
Menurut IRESS, 10,61% dari 26,67% saham Garuda yang bakal dilepas adalah milik Bank Mandiri (piutang kepada Garuda). Jika terlaksana, pembagian dana hasil IPO adalah Rp 3,3 triliun untuk Garuda dan Rp 1,451 untuk Bank Mandiri. Sisa saham yang tak terjual sebanyak 3.008.406 lembar (47,5%) atau setara Rp 2,25 triliun, harus diserap/dibeli ketiga penjamin emisi. Belakangan, total saham ketiganya berkurang menjadi 2,47 miliar lembar dengan nilai (sesuai harga perdana Rp 750 per lembar) sebesar Rp 1.85 triliun.
IRESS juga menyatakan, Menteri BUMN Dahlan Iskan bulan Desember 2011 yang lalu pernah menyatakan bahwa saham Garuda milik ketiga BUMN akan dijual pada level 10% di atas harga pasar. Jika mengacu pada harga penutupan saham Garuda (GIAA) kemarin (23/4/2012) sebesar Rp 630 per lembar, maka harga penjualan saham tersebut seharusnya Rp 693 per lembar. Dengan demikian, kerugian ketiga BUMN sekuritas itu (tanpa memperhitungkan cost of money) turun menjadi sekitar Rp 147 miliar.
"Jika saham saham tetap dijual pada harga Rp 620, maka kredibilitas Menteri BUMN yang sebelumnya berencana dan batal membubarkan Petral ini wajar dipertanyakan. Mengapa pemerintah begitu gampang membiarkan terjadinya kerugian negara? KKN telah kembali merebak?", tanya Marwan.
IRESS juga mencurigai adanya persekongkolan perburuan nente dalam rencana penjualan saham Garuda kepada “sang investor ternama”, mengingat proses yang dilalui tidak transparan, tidak adanya penerimaan minat dari calon-calon pembeli dan tidak adanya proses book building. Padahal ketiga BUMN penjamin emisi telah menunjuk Morgan Stanley sebagai penasihat keuangan (financial advisor).
"Menteri Dahlan Iskan pun pernah menawarkan saham tersebut kepada lima pengusaha nasional, antara lain Anthoni Salim, Nirwan Bakrie, Rachmat Gobel dan Sandiaga Uno, tanpa kabar lebih lanjut", pungkasnya.
Rep: Shodiq Ramadhan










Kondisi
itu membuat Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali merasa perlu segera
turun tangan. “Saya akan segera mengirimkan nota keberatan ke Pemerintah
Jakarta. Kebijakan gubernur tersebut membuat nasib MA Al-Falah tak
menentu,” ujar Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali saat meninjau
pelaksanaan ujian nasional (Unas) di MA Al-Falah, Jakarta, Selasa
(17/4).
Suryadharma
mengatakan, penundaan izin bangunan tersebut sudah berlarut-larut.
Dalam waktu setahun saja tidak juga kunjung selesai. Dia meminta Pemprov
Jakarta bisa lebih realistis memperlakukan kebijakan, terutama pada
persoalan pendidikan yang sangat dibutuhkan masyarakat dengan tidak
mempersulit izin bangunan madrasah.
“Dari
informasi yang saya terima, madrasah ini sangat baik prestasinya. Sudah
lama pula berdiri. Tapi saat penambahan lokal belajar, tak mendapatkan
izin bangunan,” ungkapnya. [taz/jpn]






