Mereka mengawasi jika tiba-tiba terlihat debu beterbangan yang menandakan ada massa yang mendekati wilayah mereka.
Rabu (1/5/2013) lalu, sekitar 100 umat Buddha bersenjatakan tongkat berkumpul di luar pagar permukiman warga Muslim. Mereka mengancam akan membakar kampung dan membubuh warga kampung, kata warga Wan Kite. Wan Kite berjarak tempuh sekitar dua jam dari Yangon, Myanmar.
Polisi mengamankan kejadian tersebut, namun umat Islam tak dapat berbuat banyak. Para biksu Buddha melakukan kekerasan di Meikhtila pada Maret 2013 lalu.
Peristiwa itu menyebabkan 44 orang dijemput ajal, mayoritas Muslim, dan membuat rusuh pusat kota Myanmar.
‘’Kami akan mempertahankan diri kami jika mereka kembali menyerang,’’ kata Kin So. Sejumlah orang di Win Kite mempersenjatai diri mereka dengan pentungan dan pedang. Itu dilakukan untuk berjaga-jaga jika ada serangan atau patroli polisi.
Pagar setinggi 1,5 meter yang mengelilingi Win Kite merupakan ilustrasi nyata kebencian Buddha Burma (Myanmar) atas warga Muslim.
Pada 30 April 2013 lalu, seorang pria dijemput maut dalam serangan yang dilakukan ekstrimis Buddha di Oakkan. Ketika itu seorang wanita Muslim ditabrak oleh seorang biksu muda. Insiden itu memicu keributan kedua pihak.
Otoritas setempat menyadari kecelakaan seperti itu dapat memicu kemarahan massa. Petugas di distrik telah mencegah berkumpulnya massa atas kejadian itu di Taikkyi, sebuah kota dekat Oakkan.
Juru bicara Kepresidenan, Ye Htut, menulis di akun Facebooknya bahwa pihak otoritas telah menangani masalah di kota Mandalay. Ketika itu tiga pengendara motor melintasi permukiman umat Islam dan berteriak bahwa biksu Buddha datang untuk membakar rumah warga.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun