Pages - Menu

BIADAB LA'NATULLAH

Blogger templates

Proyek Pencetakkan Al-qur'an

Jadwal Sholat Untuk DKI Jakarta

Jadwal Sholat

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam tuntunan kita, orang yang sangat kita cintai. Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Apabila Anda ingin menampilkan Jadwal Sholat ini di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda


Reklame Anda

Reklame Anda
Manfaat Madu Bagi Kesehatan

Reklame Anda

Reklame Anda
Madu dari HD

Silakan Pesan

untuk pemesanan produk Madu dari HD bisa anda dapatkan di Al-Ikhwaninlife dengan no hp: 081279651501 dan 08197974192. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di nomor tersebut.

Sabtu, 06 April 2013

Aktivis Suriah: ‘Bashar Assad Ingin Merusak Citra Mujahidin dengan Membunuh Syaikh Al Buthi’


P1110809
Syaikh Ghoyyats Abdul Baqi
JAKARTA (SALAM-ONLINE): Ada dua kepentingan yang ditargetkan Bashar Al Assad saat membunuh tokoh ulama Suriah, Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Demikian disampaikan Aktivis Suriah Syaikh Ghoyyats Abdul Baqi dalam Silaturahim bersama tokoh yang diselenggarakan Forum Indonesia Peduli Syam  (FIPS) di Jakarta, Rabu (3/4/2013).
“Yang pertama, Bashar ingin mengadu domba sesama kaum Muslimin. Dengan terbunuhnya Syaikh Al Buthi akan terjadi sikap saling tuduh di antara kalangan Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan cara ini Bashar ingin opini mengenai perjuangan Suriah terpecah belah,” ungkap Syaikh Ghoyyats.
Yang Kedua, lanjutnya, Bashar ingin merusak citra Mujahidin Suriah. Rezim Bashar ingin menggulirkan opini bahwa pembunuh Al Buthi adalah Mujahidin Suriah.
“Semua ini untuk menyebar fitnah sekaligus melahirkan stigma buruk kepada pejuang oposisi,” jelas Syaikh Ghoyyats.
Ia mengingatkan agar kaum Muslimin tidak terjebak pada perbedaan pendapat syahid atau tidaknya Syaikh Al Buthi. Saat ini fokus utama umat Islam justru harus semakin menyolidkan langkah perjuangan untuk mendukung para pejuang Suriah.
“Menghukumi seseorang masuk neraka atau surga itu jelas bukan tugas manusia, tapi biarlah Allah yang Maha Tahu apa yang ia kehendaki terhadap Syaikh Al Buthi,” jelasnya lagi.Suriah-bersama Syaikh Ghayyats-bumisyam.com-jpeg.image
Syaikh Ramadhan Al Buthi memiliki banyak kebaikan, namun ia juga tak lepas dari kesalahan. “Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Pengampun dan lebih tahu seseorang itu masuk neraka atau surga,” ujarnya.
Rep: Abu Asykar Hibban
Red: Abdul Aziz Al Makassary (bumisyam.com/salam-online)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun

Lintas Sejarah

Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.[1] Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, dimana pasukan Umayyah pimpinan Tariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth yang menguasai Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (c. 750-929), sebuah kekhalifahan, (929-1031), dan akhirnya "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil pecahan dari kekhalifahan tersebut (1031-1492). Karena pada akhirnya orang-orang Kristen berhasil merebut Iberia dari tangan umat Islam (Reconquista), nama Al-Andalus umumnya tidak merujuk kepada Iberia secara umum, tapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng terakhir umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Ferdinand III dari Kastilia, dan menjadi negara bawahan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII menyerah sepenuhnnya kepada Los Reyes Católicos (Kerajaan Katolik Spanyol) pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Muslim kemudian diikuti oleh penganiyaan dan pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2] .