Semua masalah antara kedua Korea ditangani sesuai kondisi perang. Sejak lama Korea Utara sering melontarkan pernyataan-pernyataan seperti itu, bahkan memakai "teknologi nuklir"-nya untuk menekan negara-negara lain.
"Mulai sekarang, hubungan antar-Korea memasuki keadaan perang dan semua masalah antar dua Korea akan ditangani menurut protokol masa perang," kata Utara dalam pernyataan yang ditujukan kepada semua lembaga di negara tersebut, seperti dilaporkan AFP.
Pengumuman ini adalah ancaman terkeras baru dari Pyongyang, selaras dengan peringatan keras serupa dari Korea Selatan dan Amerika Serikat yang membangkitkan kekhawatiran dunia bahwa situasi akan menjadi tak terkendali.
"Situasi di Semenanjung Korea yang tak lama tak jelas apakai dalam keadaan damai atau perang, akhirnya berakhir," kutip pernyataan Utara seperti disiarkan kantor berita Utara KCNA.
Pernyataan itu, yang dikeluarkan secara bersama pemerintah DPRK, partai politik setempat, dan organisasi lain, memperingatkan setiap provokasi militer di dekat perbatasan darat atau laut kedua pihak "akan mengakibatkan konflik berskala besar dan perang nuklir.
Pada Jumat (29/3), pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, memerintahkan persiapan bagi serangan roket strategis ke daratan dan pangkalan militer Amerika Serikat setelah pembom siluman B-2 Spectre Amerika Serikat melakukan latih di Korea Selatan.
Perintah itu dikeluarkan saat Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Chuck Hagel, mengatakan, Washington tidak akan gentar dengan ancaman perang Pyongyang, sementara ketegangan meningkat di Semenanjung Korea.
China dan Russia meminta kedua pihak bekerjasama mencegah situasi agar tidak memburuk. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov khawatir keadaan menjadi di luar kendali.
Sementara Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menandaskan Washington tak akan bisa digertak Pyongyang, sebaliknya bersiap menghadapi setiap kemungkinan.
Para analis menggarisbawahi bahwa ancaman dan kontra-ancaman menjadi unsur kondisional bagi kedua belah pihak mengenai siapa yang bertindak duluan, demikian AFP.
red: Abu Faza
sumber: ANTARA news








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun