Purnomo | Selasa, 04 Maret 2014 21:34 WIB
ist.
"Banyak lembaga survei memakai metode sembarangan atau hasil penelitian mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan," ujar Ade saat diskusi di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (04/03/2014)
Ade membeberkan pola-pola kesalahan yang dilakukan lembaga survey belakangan ini. Pertama, sengaja merekayasa hasil penelitian. Misalnya, tidak menggunakan metodologi random sampling tetapi temuan kemudian digeneralisasikan.
"Survei di tiga atau empat kota, hasilnya nasional. Ditambah juga hasil tatap muka langsung berbeda dengan lewat telepon. Kalau dengan telpon hasil juga tidak bisa dipakai mewakili masyarakat secara nasional," ujar Ade
Metode random sampling, kata Ade, betul-betul diambil secara acak tapi dengan metode yang ketat. Kalau tidak dipatuhi maka hasilnya tidak bisa digeneralisasi secara nasional.
Ade melanjutkan, pola kesalahan kedua, tidak melakukan wawancara atau penelitinya tidak pernah turun ke lapangan sehingga hasilnya bohong. Ketiga, kuesioner atau pertanyaan dibuat buruk.
"Kenapa ini terjadi? Salah satu karakter lembaga penelitian mengalami perubahan yaitu dari lembaga penelitian menjadi konsultan politik. Akibatnya, sangat mungkin terjadi bias-bias politik. Karena dia mewakili salah satu kandidat, ada kebutuhan untuk membuat si kandidat itu menang atau citranya baik," beber Ade
Berikut lembaga-lembaga bermasalah versi Ade Armando:
1. Indonesian Network Elections Suvey (INES)
Melansir hasil yang hasilnya sangat mengejutkan dan tidak masuk akal. Pertama, menyatakan ektabilitas capres tertinggi adalah Prabowo Subianto dengan angka yang luar biasa mencapai 40,8 persen.
Sedangkan, Jokowi, yang dikenal sebagai kandidat yang kuat, hanya 5,6 persen.
2. Fokus Survei Indonesia (FSI)
Pada Januari yang lalu, melansir hasil survei yang menyebut elektabilitas Prabowo Subianto meroket sampai 33 sedangkan Jokowi hanya 5,2 persen.
3. Survei Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma)
Menjadikan 112 wartawan sebagai responden dalam suatu survei elektaabilitas capres dan cawapres. Namun tidak dijelaskan, para wartawan itu siapa, dari media apa saja, dan mewakili siapa. Kemudian, cara menarik informasi juga tidak dijelaskan dengan gamblang.
4. Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
Dalam sebuah survei tahun 2013 lalu, LSI menyatakan Aburizal Bakrie memiliki elektabilitas di peringkat pertama namun jika dipasangkan dengan Jokowi. Padahal, jika Jokowi disandingkan dengan tokoh lain seperti Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Hatta Rajasa tetap menjadi yang tertinggi. Menurut Ade, LSI menggunakan pertanyaan yang bersifat rekayasa.
5. Lembaga Survei Jakarta (LSJ)
Pertanyaan mengarahkan. Saat mengumumkan PKS sebagai partai yang paling tidak dipercaya oleh publik. Sebab, pertanyaan yang diajukan adalah setelah Luthfi Hasan Ishaq tertangkap sehingga masyarakat otomatis menilai buruk partai tersebut.
6. Indonesia Research Center (IRC)
Temuan mereka yang menyebut Wiranto-Hary Tanoesoedibjo naik ke empat besar, kemudian sampai pada dua dinilai tidak valid. Terlebih, temuan tersebut berdasarkan hasil survei yang belum selesai 100 persen. Saat pengumuman, IRC baru mengumpulkan 80 persen data.
7. Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
SSS menggelar survei melalui jaringan telpon. Padahal, pemilik telpon (rumah) di Indonesia tidak lebih dari 10 persen. Metode itu dinilai tidak memenuhi syarat random sampling dan tidak bisa mewakili seluruh masyarakat. []








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan isi komentar anda dengan bahasa yang santun